
KOMPAS1.ID
BANDUNG 23 September 2026 Perubahan mendadak pada kondisi fisik, terutama pada area wajah seperti sudut mulut yang melorot atau mata yang sulit dipejamkan, kerap memicu kepanikan masyarakat. Banyak yang langsung mengaitkan kondisi wajah miring secara mendadak ini dengan serangan stroke. Kendati demikian, dalam dunia medis terdapat dua kondisi utama yang sering menyebabkan gejala serupa, yaitu Stroke dan Bell’s Palsy.
Memahami perbedaan antara keduanya sangat penting agar penanganan medis dapat dilakukan secara tepat dan cepat.
Mengenal Perbedaan Stroke dan Bell’s Palsy
Meskipun sama-sama menunjukkan gejala wajah asimetris atau miring, kedua kondisi ini memiliki kelemahan saraf yang berbeda:
Bell’s Palsy: Merupakan kelumpuhan sistem saraf tepi, khususnya saraf fasialis (saraf perifer ketujuh) yang mengontrol otot-otot wajah. Kelumpuhan ini biasanya hanya memengaruhi satu sisi wajah secara total, mulai dari dahi, mata, hingga mulut. Penderita Bell’s Palsy umumnya tidak dapat mengerutkan dahi atau menutup mata di sisi yang terdampak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Stroke: Terjadi akibat gangguan aliran darah ke otak, baik karena penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah (gangguan saraf pusat). Pada kasus stroke, kelumpuhan otot wajah biasanya hanya terjadi pada area bagian bawah (mulut dan pipi), sementara fungsi otot dahi dan kemampuan menutup mata sering kali masih normal.
Gejala Tambahan yang Perlu Diwaspadai
Untuk membedakan kondisi yang dialami, perhatikan gejala penyerta berikut:
Tanda Kasus Stroke: Selain wajah miring, stroke biasanya disertai kelemahan atau kelumpuhan pada anggota gerak tubuh (seperti lengan dan kaki di satu sisi), bicara menjadi pelo atau tidak jelas, serta penurunan kesadaran.
Tanda Bell’s Palsy: Kelemahan terbatas pada area wajah tanpa disertai kelumpuhan pada lengan atau kaki. Penderita mungkin mengalami penurunan rasa pada lidah bagian depan atau sensitivitas berlebih terhadap suara di salah satu telinga.
Langkah Pertama yang Harus Dilakukan
Jangan Panik: Tetap tenang untuk mempermudah evaluasi kondisi fisik secara objektif.
Lakukan Pemeriksaan Sederhana: Minta orang tersebut untuk tersenyum, mengangkat alis, dan memejamkan mata rapat-rapat guna melihat area wajah mana yang tidak merespons.
Segera Hubungi Fasilitas Kesehatan: Mengingat stroke merupakan kondisi darurat medis (golden period penanganan stroke sangat krusial), segera bawa pasien ke unit gawat darurat (UGD) terdekat untuk mendapatkan penegakan diagnosis resmi melalui pemeriksaan dokter dan pencitraan medis (seperti CT-Scan atau MRI).
Meningkatkan kesadaran masyarakat akan perbedaan gejala medis ini diharapkan dapat membantu penanganan yang lebih akurat dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Bob Hariawan. Kabiro Kota Bandung












