Sleman.DIY.Kompas1.id
Dalam rangka kegiatan perkuliahan dan praktek mata kuliah bagi mahasiswa Semester VII program Studi Sarjana Terapan Sanitasi Lingkungan Jurusan Kesehatan Lingkungan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Yogyakarta tahun Akademik 2026/2027 pada mata kuliah “Inovasi Rekayasa Teknologi Sanitasi” dengan Materi Pelaksanaan Inovasi dan Rekayasa Sanitasi Air Hujan dengan Teknologi ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan) dan Elektrolisa teknologi Pemecah Partikel untuk mendapat manfaat lebih menjadi 2 rasa (Air Asam dan Basa).
Pembelajaran ini di ikuti 58 Mahasiswa dan 4 Pendamping di hari Kamis, 16 Juli 2026, jam 13.00-15.00 WIB. Sungguh sebuah kegiatan pembelajaran lapangan dan praktikum yang sangat bermanfaat dan progresif. Politeknik Yogyakarta setiap tahun mengirimkan mahasiswa untuk belajar bersama di Sekolah Air Hujan Banyu yang berlokasi di Tempursari, Sardonoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengenalan teknologi ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan) serta elektrolisis pemecah partikel untuk memisahkan/mengolah air hujan menjadi air berkarakteristik rasa asam dan basa memberikan wawasan nyata bagi para mahasiswa. Hal ini sangat efektif dalam membuka mata dan mengubah mindset (pola pikir) masyarakat akademis bahwa air hujan bukanlah sekadar air turun dari kangit biasa atau ancaman banjir, melainkan sumber kehidupan, sumber daya air yang bernilai tinggi dan berpotensi besar jika dikelola dengan rekayasa teknologi sanitasi yang tepat sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur).
Ketua jurusan Kesehatan Lingkungan
DR Bambang Suwerda SST , MSi menyampaikan terima kasih kepada Sri Wahyuningsih, S.Ag (Founder Sekolah Air Hujan Banyu Bening) dan Tim memberikan waktu dan ruang pembelajaran bagi mahasiswa Politeknik Yogyakarta bahwa Air Hujan Solusi saat ini dan kedepan yang tidak terus menerus menggunakan air tanah yang sudah banyak tercemar. Semoga bekal ilmu ini bisa di praktek untuk langkah nyata dan baik bagi mahasiswa sendiri dan berdampak ke lingkungan keluarga dan masyarakat langsung.
Sri Wahyuningsih (Bu Ning) juga menyampaikan bahwa langkah ini harus di mulai dari kesadaran pribadi sebagai contoh baik dan sebuah perubahan nyata di kondisi Iklim yang tidak menentu ini. “Tidak mudah bukan berarti tidak mungkin” konsisten, Konsekuen, tanggung jawab untuk kehidupan yang sehat dan lenih baik.
“Bumi cuma Satu, Manusia adalah Tamu”
Sumber: AJ. Purwanto
@AndiSuka_2026














