Aceh Singkil kompas1.id
Harga elpiji bersubsidi 3 kilogram di sejumlah wilayah Kemukiman Punaga, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, dilaporkan melonjak hingga Rp37.000 per tabung. Kenaikan yang jauh di atas harga yang seharusnya diterima masyarakat itu memicu tanda tanya mengenai pengawasan distribusi gas subsidi.
Sejumlah warga mengaku kesulitan memperoleh elpiji dengan harga normal. Kondisi tersebut semakin membebani masyarakat berpenghasilan rendah, terutama ibu rumah tangga yang bergantung pada gas bersubsidi untuk kebutuhan sehari-hari.
”Kami minta pemerintah jangan hanya diam. Turunlah ke lapangan untuk mengecek kenapa harga bisa sampai Rp37.000. Apakah ada permainan di jalur distribusi, pelanggaran dalam penyaluran, atau faktor lain yang menyebabkan harga melonjak,” ujar seorang ibu rumah tangga di Kemukiman Punaga, Senin (6/7/2026).
Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil melalui dinas terkait bersama aparat penegak hukum melakukan inspeksi terhadap pangkalan maupun rantai distribusi elpiji bersubsidi. Mereka meminta seluruh proses penyaluran diaudit agar diketahui penyebab tingginya harga yang dibayar masyarakat.
Menurut warga, bila distribusi berjalan sesuai ketentuan dan pengawasan dilakukan secara maksimal, harga elpiji bersubsidi seharusnya tidak mengalami lonjakan yang memberatkan masyarakat.
Masyarakat juga meminta pemerintah membuka hasil pengawasan kepada publik sehingga tidak menimbulkan spekulasi mengenai penyebab kenaikan harga elpiji 3 kilogram di wilayah tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, SINGKILNEWS.ID masih berupaya mengonfirmasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Aceh Singkil serta pihak terkait mengenai penyebab melonjaknya harga elpiji 3 kilogram dan langkah pengawasan yang akan dilakukan.
Reporter Sabri
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT














