Aceh Singkil kompas1.id
Pascabanjir yang melanda wilayah Kecamatan Singkil, Desa Kuta Simboling kembali harus menelan pil pahit. Kali ini bukan hanya sisa lumpur atau jalan rusak yang menjadi cerita, tetapi hamparan eceng gondok yang tumbuh liar dan cepat, menyelimuti perairan desa hingga tampak jelas dari kejauhan.Jumat, (19/6/2026).
Tanaman air tersebut kini menjelma menjadi masalah baru bagi masyarakat. Sungai dan saluran air yang dulu menjadi sumber kehidupan, perlahan berubah menjadi hamparan hijau pekat yang menyesakkan.
Air yang digunakan warga untuk mandi dan kebutuhan sehari-hari kerap menimbulkan rasa gatal di kulit, menambah derita setelah bencana banjir berlalu.
Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, harapan masyarakat akan ketersediaan air bersih masih sebatas angan. Dari tahun ke tahun, jeritan itu terus disuarakan, namun hingga kini belum juga berlabuh pada solusi nyata.
Warga terpaksa bertahan dengan apa yang ada, meski sadar risiko kesehatan terus mengintai. “Kami ini seolah hidup di pinggir perhatian. Air bersih selalu dijanjikan, tapi tak pernah benar-benar datang,” ungkap salah seorang warga dengan nada lirih namun sarat makna.
Meski merasa terabaikan, semangat masyarakat Desa Kuta Simboling tak pernah padam. Mereka tetap bertahan, tetap berharap, dan terus menyuarakan keluh kesahnya agar suatu hari kelak sampai ke telinga pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat.
Eceng gondok mungkin tumbuh cepat dan menutup permukaan air, namun harapan warga Kuta Simboling jauh lebih kuat. Harapan akan perhatian, harapan akan keadilan pembangunan, dan harapan akan hak dasar berupa air bersih yang hingga kini masih mereka tunggu dengan sabar, meski lelah.
Reporter Sabri
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT














