Kompas1.id
Bandung, 12 Juni 2026 – Kenaikan harga BBM jenis Pertamax dari semula Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter memunculkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat. Kenaikan ini tidak hanya dirasakan pada biaya pengisian bahan bakar kendaraan, tetapi juga dikhawatirkan akan berdampak pada kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok dan jasa.
Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengingatkan bahwa harga BBM memiliki keterkaitan erat dengan biaya transportasi dan distribusi barang. Menurut lembaga tersebut, kenaikan biaya logistik berpotensi membuat pelaku usaha menyesuaikan harga jual barang guna menutupi peningkatan biaya operasional yang mereka tanggung.
“Jika biaya pengangkutan barang naik, maka besar kemungkinan harga di tingkat konsumen pun akan mengikuti. Dampaknya bisa terasa pada harga bahan pangan, kebutuhan rumah tangga, hingga layanan jasa yang bergantung pada pergerakan kendaraan,” ungkap pernyataan dari YLKI.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di sisi lain, terdapat pandangan yang menilai dampak kenaikan ini tidak akan terlalu luas. Alasannya, sebagian besar sektor distribusi barang masih menggunakan jenis BBM lain selain Pertamax, dan komponen biaya produksi secara keseluruhan tidak sepenuhnya bergantung pada jenis bahan bakar tersebut.
Meskipun demikian, kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat tetap menjadi perhatian utama. Kondisi ini datang di tengah berbagai penyesuaian biaya hidup yang telah terjadi sebelumnya, sehingga banyak keluarga harus kembali mengatur ulang anggaran pengeluaran mereka.
Hingga saat ini, muncul pertanyaan di tengah masyarakat: apakah kenaikan harga Pertamax ini benar-benar akan memicu lonjakan harga barang dan jasa secara signifikan, atau dampaknya hanya bersifat terbatas dan tidak terlalu terasa dalam kehidupan sehari-hari
***Red














