KOMPAS1.ID || Di pelosok Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, terdapat sebuah akses penghubung yang kini lebih pantas disebut sebagai “jalur pertaruhan nyawa” daripada sarana transportasi.
Jembatan kayu yang menghubungkan Desa Nanga Ngeri dan Desa Landau Badai di Kecamatan Silat Hulu berada dalam kondisi memprihatinkan.
Struktur yang lapuk, papan yang rusak, serta lubang-lubang besar di badan jembatan menjadi ancaman nyata bagi setiap warga yang melintas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Belum lama ini, sebuah insiden nyaris merenggut nyawa pengguna jalan yang melintasi jembatan tersebut. Peristiwa itu bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan peringatan keras bahwa kondisi jembatan telah berada pada titik yang sangat membahayakan.
Setiap hari, masyarakat harus menghadapi risiko besar demi menjalankan aktivitas ekonomi, pendidikan, maupun kebutuhan dasar lainnya.
Ironisnya, kerusakan yang terjadi bukanlah persoalan baru. Kondisi jembatan yang semakin memburuk telah lama menjadi keluhan warga.
Namun hingga kini, perbaikan yang memadai belum juga terealisasi. Akibatnya, masyarakat terus dipaksa menghadapi ancaman keselamatan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara untuk dicegah.
Persoalan ini tidak hanya mencerminkan rusaknya infrastruktur, tetapi juga menjadi gambaran ketimpangan pembangunan yang masih dirasakan masyarakat di wilayah pedalaman.
Di saat berbagai proyek pembangunan terus berjalan di banyak daerah, warga Nanga Ngeri dan Landau Badai masih harus bergantung pada jembatan yang sewaktu-waktu dapat runtuh.
Pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, hingga pemerintah pusat perlu memberikan perhatian serius terhadap kondisi ini. Keselamatan masyarakat tidak boleh menunggu hingga jatuhnya korban jiwa.
Infrastruktur dasar seperti jembatan merupakan kebutuhan vital yang menentukan akses warga terhadap pelayanan publik, pendidikan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi.
Masyarakat tidak membutuhkan janji baru. Yang dibutuhkan saat ini adalah langkah nyata dan tindakan cepat untuk memperbaiki akses penghubung yang menjadi urat nadi kehidupan warga.
Nanga Ngeri dan Landau Badai bukan wilayah pinggiran yang boleh diabaikan, melainkan bagian dari Indonesia yang memiliki hak yang sama untuk memperoleh pembangunan yang layak dan berkeadilan.
Sudah saatnya pemerintah hadir dengan solusi konkret. Jangan tunggu tragedi terjadi dan korban berjatuhan sebelum tindakan diambil. Keselamatan warga harus menjadi prioritas utama, dan perbaikan jembatan Nanga Ngeri–Landau Badai harus segera direalisasikan.
Reporter: Dedi Kompas1.id














