KOMPAS1.ID
BANDUNG, 26 Mei 2026 – Hari Raya Idul Adha selalu membawa pesan mendalam tentang keikhlasan, pengorbanan, dan berbagi. Momen suci ini menjadi waktu bagi umat untuk berserah diri dan meneguhkan semangat berkurban demi merawat alam serta sesama manusia. Namun, di tengah sukacita menyambut hari kemenangan itu, ada bentuk pengorbanan nyata yang diwujudkan para relawan kemanusiaan—mereka yang memilih bersiaga saat orang lain bersiap menikmati kehangatan berkumpul bersama keluarga.
Saat gema takbir Idul Adha 1447 H/2026 mulai bersahut-sahut memenuhi langit Kota Bandung, jutaan warga bersiap merayakan malam yang penuh berkah. Di sudut lain kota, para relawan Lendeng Fast Rescue (LFR) justru sibuk mempersiapkan diri: mengencangkan tali sepatu lapangan, memeriksa kelengkapan peralatan medis, dan menyalakan lampu rotator pada armada mereka.
Malam takbiran, terutama tradisi Takbir Keliling, memang menjadi puncak keramaian warga. Konvoi kendaraan dan antusiasme masyarakat menciptakan suasana spiritual yang magis, namun di sisi lain juga menyimpan potensi risiko kedaruratan yang cukup tinggi. Menyadari tanggung jawab moral tersebut, LFR mengambil langkah konkret melalui program “Siaga Tanggap Darurat”, demi memastikan seluruh warga Bandung bisa merayakan malam suci ini dengan rasa aman dan tenang.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Komitmen Nyata di Tengah Keramaian
Mengusung tema “Teguhkan Spirit Kurban, untuk Merawat Alam dan Kemanusiaan”, LFR membuktikan bahwa kepedulian sosial bukan sekadar jargon di atas kertas, melainkan aksi nyata yang dijalani dengan penuh dedikasi dan peluh. Tepat pukul 19.00 WIB, saat senja mulai beranjak, markas LFR di Jalan Sukamaju Nomor 5 Bandung menjadi saksi keberangkatan para relawan menuju titik-titik pengabdian.
Dua unit armada andalan disiagakan lengkap dengan pembagian tugas yang matang. Satu unit kendaraan penyelamatan (Rescue) disiapkan untuk memberikan pertolongan pertama secara taktis dan evakuasi jika terjadi insiden di jalanan. Sementara itu, satu unit ambulans bertindak sebagai Penanggulangan Medis Pertama (Medical First Responder), membawa perlengkapan darurat guna mencegah cedera bertambah parah, serta memastikan rujukan cepat ke rumah sakit terdekat apabila situasi membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Pergerakan tim ini dirancang dinamis—beroperasi bergerak maupun menetap—untuk menyisir dan menjaga pusat-pusat keramaian utama Kota Kembang, meliputi kawasan Dago, Gasibu, dan Alun-Alun Bandung. Tiga lokasi yang diprediksi akan dipadati ribuan warga pada malam takbiran.
Mengabdi dalam Sunyi, Tanpa Mengharap Pujian
Menjadi relawan LFR berarti bersedia menjadi benteng keselamatan yang tak selalu terlihat. Dengan seragam oranye yang mencolok di bawah temaram lampu jalan, kehadiran mereka menjadi jaminan ketenangan: bagi ibu-ibu yang membawa anak menyaksikan takbiran, bagi para pemuda yang mengagungkan nama Allah, dan bagi setiap pengguna jalan yang mendambakan kenyamanan.
Ketika lampu rotator biru terlihat membelah arus kendaraan di Dago atau Gasibu malam ini, ketahuilah bahwa di baliknya ada mata yang lelah namun tetap awas, hati yang berdebar cemas demi keselamatan sesama, serta doa yang terus dipanjatkan agar malam kemenangan ini berlalu tanpa kesedihan atau musibah.
Inilah esensi kurban yang sesungguhnya di era masa kini: mengurbankan waktu berkumpul dan istirahat berharga demi nilai yang jauh lebih tinggi, yaitu nyawa dan keselamatan manusia. Lendeng Fast Rescue tidak sedang mencari sorotan atau pujian, mereka hanya sedang menunaikan janji suci kemanusiaan.
Semoga keikhlasan para relawan LFR
BOB Hariawan
Kabiro kota bandung














