KOMPAS1.ID
PORT MORESBY – Aktivitas vulkanik yang langka dan tidak biasa terjadi di perairan Papua Nugini pada Minggu, 25 Mei 2026. Sebuah gunung api bawah laut yang sementara diberi nama Titan Ridge atau Punggungan Titan, yang terletak sekitar 125 kilometer tenggara Pulau Manus di Laut Bismarck, dilaporkan mengalami erupsi. Peristiwa ini memicu kekhawatiran potensi terjadinya tsunami, sehingga pihak berwenang mengimbau seluruh komunitas yang tinggal di sepanjang pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan tinggi terhadap perubahan kondisi laut.
Berdasarkan data pemantauan, aktivitas gunung api ini pertama kali terdeteksi sejak tanggal 8 Mei 2026, saat sensor seismik mencatat serangkaian gempa bumi berkekuatan kecil hingga sedang di wilayah tersebut. Tak lama setelah itu, sinyal akustik bawah air menangkap adanya pergerakan magma yang sangat kuat. Keesokan harinya, satelit milik NASA—Aqua dan Terra—berhasil merekam citra kepulan asap putih tebal yang berisi uap air dan gas membubung tinggi dari permukaan laut ke atmosfer.
Masyarakat setempat, khususnya para nelayan, menjadi saksi nyata fenomena alam tersebut. Mereka melaporkan mendengar suara gemuruh berat seolah guntur yang datang dari dasar laut. Selain itu, permukaan air terlihat tertutup hamparan batu apung dalam jumlah sangat besar, dan ditemukan banyak ikan yang mati mengambang. “Suaranya bergemuruh seperti guntur dan air laut tercium seperti bau logam terbakar,” ungkap seorang nelayan yang beraktivitas di sekitar lokasi kejadian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Steve Saunders, pakar survei geodesi utama dari Observatorium Gunung Api Rabaul (RVO), menjelaskan bahwa gunung api ini berada di jalur punggungan pemekaran, wilayah pertemuan dua lempeng tektonik yang saling menjauh sehingga memicu naiknya magma basal ke permukaan. Menurutnya, sebenarnya erupsi di dasar laut terjadi hampir setiap waktu namun berlangsung senyap dan tidak teramati. “Namun, aktivitas yang sampai menembus dan terlihat jelas di permukaan seperti saat ini adalah fenomena yang sangat jarang terjadi,” ujar Saunders.
Hingga saat ini, para ilmuwan masih belum dapat memastikan apakah aktivitas ini akan berkembang menjadi ledakan yang jauh lebih besar. Berdasarkan citra satelit terbaru, titik erupsi berada di area yang cukup dangkal. Ada kemungkinan akumulasi material vulkanik ini akan terus menumpuk dan membentuk pulau baru di kawasan Oseania.
“Itu adalah pertanyaan bernilai jutaan dolar, sangat sulit diprediksi. Semuanya tergantung pada seberapa besar kantong magma yang menjadi sumbernya di bawah sana,” jelas Saunders. “Aktivitas ini bisa saja berlanjut bertahun-tahun dalam kondisi seperti sekarang. Namun, jika material terus menumpuk dan menjebol permukaan laut, bisa terjadi ledakan lokal yang cukup agresif. Jika hal itu terjadi, potensi tsunami kecil di sekitar wilayah ini sangat mungkin terjadi.”
Mengingat sejarah wilayah Laut Bismarck yang pernah mengalami longsoran bawah laut akibat runtuhnya lereng gunung api dan memicu tsunami mematikan di masa lalu, otoritas darurat Papua Nugini menekankan agar masyarakat tidak meremehkan situasi ini. Warga diimbau tetap menjauhi radius bahaya yang telah ditetapkan dan selalu mengikuti informasi terbaru dari pihak berwenang.
Bob Hariawan
Kabiro Kota Bandung














