Aceh Singkil kompas1.id –
Hembusan angin payau, yang sarat akan aroma garam dan napas lumpur basah, menyapu lembut wajah Halimah
seolah meluruhkan segala penat, yang sekian lama menggelayut di pundaknya.
Lima tahun sudah ia menukar teduhnya pelukan kampung halaman dengan hingar-bingar ibu kota demi
selembar ijazah sarjana. Kini, ia sungguh telah pulang.
Di hadapannya, Sungai Lae Soraya membentang tenang layaknya urat nadi bumi airnya yang sewarna tembaga seakan menyimpan riwayat panjang
masyarakat pesisir di semenanjung selatan Aceh.
Langkahnya mantap menapaki titian dermaga kayu yang berderit, seolah menyenandungkan
salam selamat datang.
Di ujung sana, seorang pria tua dengan peci hitam usang yang bertengger
miring di kepalanya, memamerkan senyum tulus yang merajut lekuk keriput di wajah rentannya.
”Oalah, sudah jadi orang kota kau rupanya, Halimah!” sapa Wak Amran jenaka. Tangannya yang
kasar oleh jejak usia namun tetap cekatan.
Reporter Sabri














