Aktivitas Sejumlah Gunung Api Meningkat, Apakah Pertanda Bencana Besar?

- Penulis

Senin, 7 September 2026 - 09:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kompas1.id
JAKARTA — Aktivitas vulkanik di sejumlah gunung api Indonesia kembali menjadi perhatian setelah beberapa gunung menunjukkan peningkatan aktivitas dalam beberapa pekan terakhir. Fenomena tersebut ditandai dengan meningkatnya kegempaan, erupsi, perubahan visual kawah hingga kenaikan status aktivitas gunung api.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama karena Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) yang dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas tektonik dan vulkanik paling tinggi di dunia.

Namun, peningkatan aktivitas gunung api tidak secara otomatis berarti akan terjadi bencana besar dalam waktu dekat.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan data terbaru Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), salah satu aktivitas paling menonjol terjadi di Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda.

Badan Geologi mencatat Anak Krakatau mengalami episode erupsi menerus yang dimulai pada Jumat, 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berakhir pada Minggu, 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Episode tersebut berlangsung sekitar 25 jam.

Setelah erupsi menerus berakhir, Anak Krakatau kembali mengalami erupsi tipe Strombolian pada Minggu sekitar pukul 03.53 WIB dengan durasi sekitar 30 detik.

Aktivitas tersebut menghasilkan semburan berwarna merah pada malam hari serta kepulan abu berwarna kehitaman pada siang hari. Pemantauan instrumental juga menunjukkan energi aktivitas vulkanik sempat meningkat sebelum kemudian menunjukkan kecenderungan menurun.

Meski demikian, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga.

Anak Krakatau Bukan Gunung Api “Mati”

Badan Geologi menegaskan Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif tipe A.

Gunung api tersebut memang mengalami jeda erupsi setelah rangkaian aktivitas pascatsunami 22 Desember 2018 hingga 16 Desember 2023. Aktivitas erupsi kemudian kembali tercatat pada 2 Juli 2026.

Sejak saat itu, aktivitas Anak Krakatau terus dipantau secara intensif.

Badan Geologi juga menyebut pertumbuhan tubuh Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah peristiwa 2018 masih relatif kecil. Berdasarkan evaluasi hingga laporan 5 September 2026, kondisi tersebut belum menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Ancaman utama pada kondisi saat ini adalah aktivitas erupsi, termasuk aliran lava, lontaran batu pijar, awan panas serta hujan abu lebat.

Masyarakat dan wisatawan juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau.

Sinabung Naik Menjadi Level Siaga

Perhatian juga tertuju pada Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Pada 31 Agustus 2026, Badan Geologi menaikkan status Gunung Sinabung dari Level II atau Waspada menjadi Level III atau Siaga.

Keputusan tersebut diambil setelah hasil pemantauan visual dan instrumental menunjukkan adanya peningkatan aktivitas vulkanik.

Dalam periode pengamatan 1-30 Agustus 2026, kolom abu berwarna hitam dengan intensitas tebal teramati condong ke arah timur dan tenggara. Aktivitas erupsi juga terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum mencapai 120 milimeter.

Badan Geologi menyatakan erupsi tersebut merupakan erupsi awal dan tidak menutup kemungkinan terjadinya erupsi yang lebih besar.

Karena itu, masyarakat maupun wisatawan dilarang melakukan aktivitas di wilayah radius tiga kilometer dari puncak Sinabung serta radius sektoral enam kilometer ke arah selatan-tenggara.

Aktivitas Gunung Api Tidak Otomatis Berarti Gempa Besar

Meningkatnya aktivitas vulkanik memang perlu diwaspadai, tetapi tidak tepat jika langsung disimpulkan sebagai pertanda akan terjadi gempa bumi besar atau tsunami.

Gempa vulkanik dan gempa tektonik merupakan fenomena yang dapat memiliki mekanisme berbeda. Aktivitas magma yang bergerak di dalam sistem gunung api dapat memicu rangkaian gempa vulkanik, tetapi hal tersebut tidak berarti secara otomatis akan diikuti gempa tektonik besar.

Demikian pula dengan tsunami.

Tsunami dapat terjadi akibat sejumlah mekanisme, terutama gempa bumi bawah laut yang menyebabkan perubahan vertikal dasar laut secara signifikan. Dalam kondisi tertentu, tsunami juga dapat dipicu longsoran bawah laut atau aktivitas vulkanik tertentu.

Baca Juga:  Pendidikan Nonformal Turut Maknai Hardiknas 2026, SKB Kota Pekalongan Gelar Upacara Hingga Lomba Edukatif

Karena itu, hubungan antara erupsi gunung api dan tsunami harus dianalisis berdasarkan kondisi spesifik masing-masing gunung serta mekanisme geologis yang terjadi.

Bagaimana dengan Kekhawatiran Tsunami Selat Sunda?

Kekhawatiran terhadap tsunami Selat Sunda tidak sepenuhnya tanpa dasar karena kawasan tersebut memiliki sejarah tsunami besar.

Erupsi Krakatau 1883 merupakan salah satu peristiwa vulkanik terbesar dalam sejarah modern dan menghasilkan tsunami.

Pada 22 Desember 2018, runtuhnya sebagian tubuh Anak Krakatau ke laut juga memicu tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.

Namun, kondisi Anak Krakatau saat ini tidak dapat disamakan begitu saja dengan peristiwa 1883 maupun 2018.

Badan Geologi menyatakan pertumbuhan tubuh Anak Krakatau pasca-2018 masih relatif kecil dan berdasarkan evaluasi terbaru belum menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Indonesia Memang Berada di Wilayah Sangat Aktif

Secara geologi, Indonesia memang berada di kawasan pertemuan sejumlah lempeng tektonik besar. Kondisi tersebut menjadikan wilayah Indonesia memiliki banyak gunung api aktif sekaligus aktivitas gempa bumi yang tinggi.

Fenomena naik-turunnya aktivitas gunung api merupakan bagian dari dinamika sistem vulkanik.

Karena itu, yang menjadi perhatian utama para ahli bukan mencari hubungan antara setiap aktivitas gunung api dengan “bencana besar”, melainkan melihat pola perubahan aktivitas secara terus-menerus.

Pemantauan dilakukan melalui berbagai instrumen, antara lain seismograf, CCTV, pengukuran deformasi tubuh gunung, pengamatan visual, serta parameter geokimia tertentu.

Dari data tersebut, ahli vulkanologi dapat menilai apakah aktivitas suatu gunung mengalami peningkatan, stabil atau justru menurun.

Tujuh Bandara Sempat Terdampak Abu Anak Krakatau

Dampak erupsi Anak Krakatau juga terasa di sektor transportasi udara.

Laporan Reuters pada Senin, 7 September 2026 menyebut sedikitnya tujuh bandara di Indonesia masih terdampak penutupan akibat abu vulkanik, termasuk sejumlah bandara utama di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

Gangguan tersebut berdampak terhadap sekitar 2.300 penerbangan dan lebih dari 270.000 penumpang.

Kolom abu Anak Krakatau dilaporkan mencapai ketinggian sekitar 50.000 kaki sehingga membahayakan penerbangan.

Sekolah di sejumlah wilayah terdampak juga sempat menerapkan pembelajaran jarak jauh sebagai langkah pencegahan terhadap paparan abu vulkanik.

Apakah Ini Pertanda Sesuatu yang Lebih Besar?

Pertanyaan tersebut belum dapat dijawab secara pasti.

Yang dapat dipastikan berdasarkan data saat ini adalah terdapat peningkatan aktivitas pada sejumlah gunung api dan pemerintah melalui Badan Geologi serta PVMBG terus melakukan pemantauan.

Namun, belum ada dasar ilmiah untuk menyatakan bahwa rangkaian aktivitas tersebut merupakan tanda pasti akan terjadinya satu bencana besar yang melibatkan gempa bumi, erupsi gunung api dan tsunami secara bersamaan.

Begitu pula tidak terdapat bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa aktivitas gunung api saat ini merupakan pertanda akan terjadinya peristiwa yang mampu “menenggelamkan banyak benua”.

Justru, yang lebih penting adalah memperhatikan informasi resmi dan memahami bahwa status Level III (Siaga) bukan berarti bencana besar pasti terjadi, melainkan menunjukkan adanya peningkatan aktivitas dan perlunya kewaspadaan lebih tinggi.

Masyarakat di sekitar kawasan gunung api diminta mengikuti rekomendasi PVMBG, tidak memasuki zona berbahaya dan tidak mudah mempercayai informasi yang tidak memiliki sumber resmi.

Untuk saat ini, belum ada bukti bahwa Indonesia sedang menuju satu bencana geologi berskala global. Namun, aktivitas vulkanik yang meningkat memang menjadi alasan kuat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.

Pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau, Sinabung dan gunung api lainnya akan terus menjadi kunci untuk mendeteksi setiap perubahan aktivitas sedini mungkin.

Masyarakat dapat memperoleh informasi resmi melalui Badan Geologi/PVMBG, MAGMA Indonesia dan BMKG. Dalam kondisi darurat, informasi resmi tersebut harus menjadi rujukan utama, bukan prediksi atau spekulasi yang beredar di media sosial.Jurnalis Joepin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

JOKOWI HADIRI RAKORDA PSI JABAR, MINTA STRUKTUR PARTAI AKTIF DAN DEKAT DENGAN RAKYAT
Cibadak Culinary Day and Night Meriahkan HJKB ke-216, Bawa Nuansa Nostalgia Era 80–90-an
Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union” di Laswi Heritage
Mengaku Wartawan Trans TV dari Medan, Empat Oknum Bikin Resah Sekolah di kecamatan Sultan Daulat
Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union”
Kuasa Hukum Tegaskan Suryadi Sah Terpilih sebagai Kepala Desa Lae Ikan
Perkuat Pembangunan Desa, Pemdes Tenjolaya Gandeng Unpas
Semarak HUT TNI ke-81, TNI-Polri dan Komunitas Bersatu Gelar Touring, Karya Bakti dan Bakti Sosial di Goa Seplawan
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 01:50 WIB

JOKOWI HADIRI RAKORDA PSI JABAR, MINTA STRUKTUR PARTAI AKTIF DAN DEKAT DENGAN RAKYAT

Sabtu, 26 September 2026 - 12:38 WIB

Cibadak Culinary Day and Night Meriahkan HJKB ke-216, Bawa Nuansa Nostalgia Era 80–90-an

Sabtu, 26 September 2026 - 11:21 WIB

Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union” di Laswi Heritage

Sabtu, 26 September 2026 - 10:05 WIB

Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union”

Sabtu, 26 September 2026 - 08:41 WIB

Kuasa Hukum Tegaskan Suryadi Sah Terpilih sebagai Kepala Desa Lae Ikan

Berita Terbaru