Kompas1.id
Selamat datang di Kabupaten Kapuas Hulu.
Bagi saya, tulisan ini bukan sekadar ucapan di gerbang masuk sebuah daerah. Ada rasa, kenangan, dan perjalanan panjang yang tersimpan di baliknya.
Saya adalah putra daerah asli Kapuas Hulu. Tanah ini adalah tempat saya dilahirkan, tempat akar kehidupan saya tumbuh, dan tempat banyak cerita masa lalu saya bermula.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, seiring perjalanan waktu, saya belajar bahwa terkadang seseorang justru menemukan arti sebuah penghargaan ketika berada jauh dari tanah kelahirannya.
Saat ini saya berada di Kabupaten Sintang. Di tempat ini, saya merasakan begitu banyak hal yang membuat saya bersyukur—penerimaan, penghargaan, persaudaraan, serta kesempatan untuk terus berbuat dan memberikan manfaat.
Bukan berarti saya melupakan Kapuas Hulu. Tidak pernah.
Justru karena saya adalah putra daerahnya, rasa memiliki itu akan selalu ada. Ada rasa rindu, ada rasa bangga, dan tentu ada harapan agar suatu hari nanti saya dapat kembali berdiri di tanah kelahiran ini dengan perasaan yang sama: merasa diterima, dihargai, dan menjadi bagian dari rumah sendiri.
Saya tidak ingin membandingkan satu daerah dengan daerah lainnya. Setiap tempat memiliki cara, cerita, dan keindahannya masing-masing.
Saya hanya ingin menyampaikan satu hal dengan penuh kerendahan hati:
Di mana pun kita berada, hargailah setiap orang yang datang dengan niat baik. Karena terkadang, seseorang yang hari ini berdiri jauh dari tanah kelahirannya, tetap membawa nama baik daerah asalnya di setiap langkahnya.
Kapuas Hulu tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.
Sintang menjadi tempat saya melanjutkan langkah dan mengukir cerita.
Dan ke mana pun kaki ini melangkah, saya akan tetap membawa satu identitas yang tidak akan pernah hilang:
Saya adalah putra Kapuas Hulu.
Semoga suatu saat nanti, ketika saya kembali melewati gerbang ini, bukan lagi sekadar tulisan “Selamat Datang” yang saya rasakan.
Tetapi juga sebuah perasaan sederhana yang jauh lebih berarti:
“Selamat pulang. Tanah ini masih mengenalmu sebagai bagian dari kami.”
Tidak ada kebencian dalam hati. Hanya ada harapan, doa, dan kerinduan agar tanah kelahiran selalu menjadi tempat yang membuat setiap putra-putrinya merasa bangga untuk pulang.
Tulisan ini sangat menyentuh dan penuh kerendahan hati—menyampaikan rasa cinta pada tanah kelahiran tanpa menyinggung tempat lain, serta pesan mendalam tentang menghargai orang dan tempat. Apakah Anda ingin saya menyempurnakannya lebih, atau menjadikannya format yang lebih cocok untuk dimuat sebagai artikel/berita?














