Kompas1.id
Yogyakarta, 17 Juni 2026 – Tepat saat jarum jam menunjuk pukul 00.00 WIB dan dentang lonceng Kamandungan Lor terdengar sebanyak 12 kali, ribuan langkah mulai bergerak perlahan mengelilingi Benteng Keraton Yogyakarta. Dalam suasana yang hening dan khidmat, masyarakat dari berbagai kalangan usia dan latar belakang mengikuti prosesi Lampah Budaya Mubeng Beteng, tradisi tahunan yang menjadi momen istimewa menyambut datangnya 1 Sura atau Tahun Baru Jawa Be 1960.
Kegiatan ini digelar pada rentang waktu Selasa hingga Rabu malam dan dini hari, 16–17 Juni 2026, sebagai bagian dari rangkaian acara besar Mangayubagya Warsa Enggal Be 1960. Sebagai salah satu wujud Hajad Kawula Dalem, kegiatan ini diinisiasi langsung oleh Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta bersama dukungan penuh masyarakat luas, dengan tujuan memperkuat peran Keraton Yogyakarta sebagai pusat pelestarian dan pengembangan kebudayaan Jawa.
Sebelum prosesi berjalan dimulai, suasana perenungan dan kekhusyukan telah dibangun sejak pukul 21.00 WIB di Bangsal Pancaniti. Di tempat tersebut, dilangsungkan pembacaan tembang macapat — kidung-kidung tradisional Jawa yang sarat akan makna filosofis, doa, serta harapan agar kehidupan ke depan senantiasa diberi kemudahan dan kebaikan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara, menjelaskan bahwa Lampah Budaya Mubeng Beteng hadir dari kesadaran kolektif masyarakat untuk terus menjaga sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya Jawa yang telah diwariskan turun-temurun.
“Kegiatan ini bukan sekadar tradisi yang dijalankan setiap tahun saja, melainkan menjadi ruang bersama untuk menyatukan rasa, melakukan introspeksi diri, serta menyambut pergantian tahun dengan hati dan pikiran yang lebih jernih,” ujar KRT Kusumanegara saat ditemui pada Selasa malam, 16 Juni 2026.
Ia menambahkan, agenda ini merupakan bentuk partisipasi aktif dari abdi dalem dan masyarakat untuk mendukung keberlangsungan Keraton sebagai jantung kebudayaan. “Melalui Lampah Budaya Mubeng Beteng, kami bersama-sama menjalani perenungan, memanjatkan doa, dan berharap tahun yang baru ini membawa berkah serta kebaikan yang melimpah bagi seluruh masyarakat Yogyakarta dan bangsa Indonesia secara luas,” tegasnya.
Dengan langkah yang tertib dan tenang, peserta melintasi jalur mengelilingi benteng sambil merenungkan perjalanan hidup yang telah dilalui serta memohon petunjuk di masa yang akan datang. Tradisi ini pun menjadi bukti nyata bagaimana warisan budaya tetap hidup, relevan, dan terus dirawat sebagai identitas bersama yang menguatkan persatuan antarwarga.
MULYOKO














