Mulai 1 Juli 2026: Beli Nomor HP Baru Wajib Scan Wajah, Langkah Babat Penipuan atau Risiko Baru?

- Penulis

Rabu, 3 Juni 2026 - 02:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KOMPAS1.ID
BANDUNG, 3 Juni 2026 – Pemerintah resmi mengubah aturan pembelian dan registrasi kartu telepon seluler (SIM card) baru. Mulai tanggal 1 Juli 2026, setiap warga yang ingin memiliki nomor telepon baru wajib melakukan registrasi biometrik berupa pemindaian wajah. Kebijakan ini menjadi langkah drastis yang memicu perdebatan publik: apakah ini solusi ampuh memberantas kejahatan siber, atau justru membuka celah baru ancaman kebocoran data pribadi?

Kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan. Data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan IASC hingga April 2026 mencatat angka yang mengkhawatirkan: kerugian akibat penipuan digital di Indonesia telah menembus Rp9,5 triliun, yang bersumber dari 548 ribu laporan masyarakat. Masalah utamanya teridentifikasi pada kemudahan pembuatan nomor anonim yang sering kali menggunakan identitas palsu, KTP curian, atau data milik orang lain secara ilegal. Padahal di era sekarang, nomor telepon seluler bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan kunci akses utama ke layanan perbankan, transaksi keuangan, dan verifikasi identitas digital.

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan aturan ini murni untuk perlindungan masyarakat, bukan pembatasan hak. “Tujuannya jelas: mencegah penyalahgunaan data kependudukan, menutup ruang gerak sindikat penipuan, serta memperkuat sistem keamanan agar transaksi digital warga jauh lebih aman dan terpercaya,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meski tujuannya positif, publik tetap memiliki kekhawatiran besar mengingat riwayat kasus kebocoran data yang pernah terjadi sebelumnya. Pertanyaan utama yang muncul: Seberapa aman data wajah kita jika diserahkan ke sistem ini?

Menjawab keresahan tersebut, Dirjen Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Edwin Hidayat Abdullah, memberikan jaminan tegas soal keamanan data. Ia memastikan bahwa operator seluler tidak akan menyimpan data biometrik maupun data kependudukan warga.

Baca Juga:  Di Beranda Terdepan NKRI, Kapuas Hulu Menawarkan Keindahan yang Membungkam Dunia

Mekanismenya berjalan terenkripsi dan langsung: saat proses pembelian, NIK dan hasil pemindaian wajah dikirim langsung ke sistem Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) untuk dicocokkan. Pihak operator hanya menerima jawaban akhir berupa status biner: “SESUAI” atau “TIDAK SESUAI”. Dengan cara ini, risiko data bocor atau disalahgunakan di tingkat penyedia layanan dapat dipangkas habis.

Apa yang Harus Diketahui Pengguna?

Menjelang pemberlakuan aturan baru ini, ada tiga poin penting yang wajib dipahami masyarakat:

1. Pengguna Nomor Baru: Per 1 Juli 2026, wajib mengikuti alur pemindaian wajah saat pembelian. Masyarakat diimbau tidak membeli nomor yang sudah aktif jadi di pinggir jalan, karena cara tersebut berisiko melanggar hukum dan tidak terjamin keamanannya.
2. Pengguna Lama (Prabayar): Kebijakan ini belum wajib diterapkan pada kartu yang sudah aktif dan terdaftar sebelumnya. Registrasi biometrik masih bersifat sukarela, kecuali ada perubahan kebijakan di masa mendatang.
3. Cek Keamanan Data: Warga disarankan rutin mengecek status nomor yang terdaftar atas nama NIK sendiri. Hal ini penting untuk memastikan data kependudukan tidak dicatut orang lain. Jika ditemukan nomor asing yang tidak dikenal, segera laporkan ke operator untuk diblokir.

Redaksi menilai kebijakan ini bagaikan “obat pahit” yang harus ditelan demi kesehatan ekosistem digital nasional. Pengetatan di tahap awal pendaftaran diharapkan otomatis mematikan sumber kejahatan penipuan lewat telepon dan pesan singkat. Namun, satu hal yang mutlak harus dijaga dan diawasi ketat adalah janji keamanan sistem enkripsi data. Kepercayaan publik adalah taruhan utamanya. Jika sistem ini berjalan kokoh dan aman, Indonesia selangkah lebih maju membangun benteng pertahanan siber yang tangguh bagi seluruh warganya.

(Bob Hariawan –  Biro Kota Bandung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

JOKOWI HADIRI RAKORDA PSI JABAR, MINTA STRUKTUR PARTAI AKTIF DAN DEKAT DENGAN RAKYAT
Cibadak Culinary Day and Night Meriahkan HJKB ke-216, Bawa Nuansa Nostalgia Era 80–90-an
Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union” di Laswi Heritage
Mengaku Wartawan Trans TV dari Medan, Empat Oknum Bikin Resah Sekolah di kecamatan Sultan Daulat
Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union”
Kuasa Hukum Tegaskan Suryadi Sah Terpilih sebagai Kepala Desa Lae Ikan
Perkuat Pembangunan Desa, Pemdes Tenjolaya Gandeng Unpas
Semarak HUT TNI ke-81, TNI-Polri dan Komunitas Bersatu Gelar Touring, Karya Bakti dan Bakti Sosial di Goa Seplawan
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 01:50 WIB

JOKOWI HADIRI RAKORDA PSI JABAR, MINTA STRUKTUR PARTAI AKTIF DAN DEKAT DENGAN RAKYAT

Sabtu, 26 September 2026 - 12:38 WIB

Cibadak Culinary Day and Night Meriahkan HJKB ke-216, Bawa Nuansa Nostalgia Era 80–90-an

Sabtu, 26 September 2026 - 11:21 WIB

Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union” di Laswi Heritage

Sabtu, 26 September 2026 - 11:13 WIB

Mengaku Wartawan Trans TV dari Medan, Empat Oknum Bikin Resah Sekolah di kecamatan Sultan Daulat

Sabtu, 26 September 2026 - 10:05 WIB

Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union”

Berita Terbaru