Dialektika Pembangunan Jawa Barat: Antara Paradoks Pertumbuhan danUrgensi Keadilan Sosial

- Penulis

Minggu, 24 Mei 2026 - 00:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bandung, Kimpas, 1. Id.
Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PKC PMII) Jawa Barat secara resmi merilis manifesto politik dan moral terkait kondisi objektif pembangunan di Provinsi Jawa Barat.

Ketua Umum PKC PMII Jawa Barat, Rusli Hermawan, menilai bahwa sebagai provinsi dengan populasi terbesar di Indonesia yang melampaui angka 50 juta jiwa, Jawa Barat tengah menghadapi disorientasi pembangunan yang asimetris. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang terlihat impresif, justru muncul polarisasi spasial dan ketimpangan sosial yang semakin tajam.

Secara geografis, Jawa Barat memiliki luas wilayah sekitar 35.377,76 km² yang terbagi ke dalam 27 kabupaten/kota dengan karakteristik sosial yang sangat heterogen. Di satu sisi terdapat kawasan megapolitan yang terintegrasi dengan pusat kekuasaan nasional di Jakarta, sementara di sisi lain masih terdapat wilayah agraris dan pesisir yang menghadapi keterbatasan infrastruktur, akses layanan kesehatan, hingga kualitas pendidikan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Posisi strategis Jawa Barat sebagai penyangga utama ibu kota negara sekaligus pusat pertumbuhan ekonomi nasional memang menghadirkan keunggulan komparatif yang signifikan. Namun di balik capaian statistik tersebut, tersimpan berbagai persoalan struktural yang dinilai memerlukan pembacaan kritis dan ilmiah. Hadir dalam penyampaian manifesto tersebut, Koordinator Lapangan Aksi sekaligus Ketua Biro Hubungan Komunikasi Pemerintah dan Advokasi Kebijakan Publik PKC PMII Jawa Barat, Riki Ramdhan Fadilah. Bandung Kamis (21/5/26 ).

Anatomi Struktur Ekonomi dan Polarisasi Spasial

PKC PMII Jawa Barat menilai bahwa provinsi ini secara de facto merupakan jantung industri nasional. Kawasan Bekasi, Karawang, Purwakarta hingga Subang yang masuk dalam koridor Rebana menjadi representasi modernisasi dan industrialisasi Indonesia. Transformasi ekonomi dari sektor agraris menuju manufaktur dan jasa di wilayah utara dinilai berhasil menciptakan akumulasi modal yang besar.

Baca Juga:  Antisipasi Kepadatan Arus Mudik, Polres Garut Terapkan Rekayasa Lalu Lintas One Way di Jalur Limbangan–Malangbong

Namun demikian, pertumbuhan tersebut dianggap bersifat asimetris. Terjadi kesenjangan yang tajam antara wilayah utara Jawa Barat yang terhubung secara global dengan wilayah selatan yang masih menghadapi persoalan keterisolasian, minimnya akses layanan dasar, serta ketimpangan kualitas sumber daya manusia.

Secara teoritis, pola pembangunan yang diterapkan disebut cenderung mengikuti model growth pole atau kutub pertumbuhan, dengan harapan munculnya efek tetesan ke bawah (trickle-down effect). Akan tetapi, berdasarkan realitas empiris, yang terjadi justru adalah polarization backwash effect, yakni tersedotnya sumber daya dari wilayah pinggiran ke pusat-pusat pertumbuhan tanpa diiringi peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah tertinggal.

Paradoks Kemakmuran dan Realitas Sosial

Dari sisi fiskal, Pemerintah Provinsi Jawa Barat memiliki kapasitas anggaran yang sangat besar. APBD Jawa Barat Tahun 2026 yang mencapai Rp30,496 triliun dinilai cukup memadai untuk melakukan intervensi terhadap persoalan struktural masyarakat. Namun PKC PMII Jawa Barat menilai besarnya anggaran tersebut belum berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat akar rumput.

Di lapangan, persoalan pengangguran masih terjadi secara fluktuatif, konflik agraria terus muncul, dan degradasi lingkungan akibat eksploitasi lahan dinilai semakin mengkhawatirkan. Selain itu, persoalan akses air bersih, stunting, hingga rendahnya daya beli masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah pembangunan yang belum terselesaikan secara menyeluruh.

PKC PMII Jawa Barat juga menyoroti kecenderungan arah kebijakan pemerintah yang dianggap lebih berorientasi pada estetika ruang publik dan pencitraan politik elite melalui media sosial dibanding menyentuh akar persoalan kemiskinan sistemik. Politisasi birokrasi dan lemahnya integritas tata kelola pemerintahan disebut turut memperlebar jarak antara kebijakan dan kebutuhan riil masyarakat.

Menurut mereka, anggaran yang seharusnya difokuskan untuk pendidikan gratis berkualitas, peng

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

DUGAAN AKTIVITAS TAMBANG EMAS TANPA IZIN DI GUNUNG CI BURULUK DISOROT, APARAT DIMINTA LAKUKAN PEMERIKSAAN”
Desa Sidomekar Bersalawat Bersama Habib Umar Al-Haddad, Warga Larut dalam Doa dan Tausiyah
Ketua DPD IWOI Purworejo Sampaikan Ucapan HUT ke-2 Kompas1.id, Dorong Pers Makin Profesional dan Terpercaya
Polres Purworejo Memberikan Bantuan Air Bersih Kepada Masyarakat Desa Guyangan Kecamatan Loano Purworejo
Berbagi Kebahagiaan di Usia Emas Kedua: Kompas1.Id Tebar Kebaikan untuk Sesama
SIAPKAN MENTAL, KUATKAN TEKAD! LSM HARIMAU Siap Gelar Aksi Moral Besar-Besaran di MNC Tower 28 September 2026.
DPD IPKBI Beri Apresiasi Semangat Harlah Karang Taruna Kabupaten Bandung
Pemuda Asal Pemalang Ditemukan Meninggal di Kost Kajen
Berita ini 44 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 26 September 2026 - 00:55 WIB

DUGAAN AKTIVITAS TAMBANG EMAS TANPA IZIN DI GUNUNG CI BURULUK DISOROT, APARAT DIMINTA LAKUKAN PEMERIKSAAN”

Jumat, 25 September 2026 - 16:30 WIB

Desa Sidomekar Bersalawat Bersama Habib Umar Al-Haddad, Warga Larut dalam Doa dan Tausiyah

Jumat, 25 September 2026 - 16:21 WIB

Ketua DPD IWOI Purworejo Sampaikan Ucapan HUT ke-2 Kompas1.id, Dorong Pers Makin Profesional dan Terpercaya

Jumat, 25 September 2026 - 14:52 WIB

Polres Purworejo Memberikan Bantuan Air Bersih Kepada Masyarakat Desa Guyangan Kecamatan Loano Purworejo

Jumat, 25 September 2026 - 11:26 WIB

Berbagi Kebahagiaan di Usia Emas Kedua: Kompas1.Id Tebar Kebaikan untuk Sesama

Berita Terbaru