KOMPAS1.id || Dalam riwayat, sosok Nabi Muhammad dikenal memiliki hati yang sangat lembut, terutama kepada kaum lemah, fakir miskin, dan anak-anak yatim. Salah satu kisah yang begitu menyentuh adalah pertemuan beliau dengan seorang anak yatim yang hidup dalam kesedihan dan kesendirian. Kisah ini menjadi pengingat bahwa kasih sayang adalah inti dari ajaran Islam.
Diceritakan pada suatu hari, ketika Nabi Muhammad keluar bersama para sahabat menuju perayaan hari raya di Madinah, beliau melihat anak-anak kecil bermain dengan penuh kegembiraan. Tawa mereka memenuhi jalanan, mengenakan pakaian terbaik, dan menikmati suasana hari kemenangan.
Namun di sudut jalan, pandangan Rasulullah tertuju kepada seorang anak kecil yang duduk sendiri. Pakaiannya lusuh, wajahnya muram, dan matanya dipenuhi air mata. Ia tidak ikut bermain seperti anak-anak lainnya. Pemandangan itu membuat langkah Rasulullah terhenti.
Dengan penuh kelembutan, beliau mendekati anak itu dan bertanya, “Wahai anakku, mengapa engkau menangis?” Anak itu pun menjawab dengan suara bergetar bahwa ayahnya telah gugur dalam peperangan, ibunya telah menikah lagi, dan kini ia hidup tanpa perhatian, tanpa makanan yang cukup, juga tanpa pakaian yang layak.
Mendengar pengakuan itu, hati Nabi Muhammad tersentuh begitu dalam hingga air mata beliau jatuh. Rasulullah kemudian memeluk anak tersebut dan berkata, “Apakah engkau ridha jika aku menjadi ayahmu, Aisyah menjadi ibumu, dan Fatimah menjadi saudaramu?”
Mendengar ucapan itu, wajah anak yatim tersebut berubah. Tangisnya perlahan berhenti, lalu berganti dengan senyum bahagia. Ia merasa tidak lagi sendiri. Rasulullah kemudian membawanya pulang, memberinya makanan, pakaian yang baik, dan kasih sayang yang selama ini ia rindukan.
Kisah ini mengajarkan bahwa kepedulian kepada anak yatim bukan sekadar anjuran, melainkan cerminan iman dan akhlak mulia.
Sosok Nabi Muhammad menunjukkan bahwa satu pelukan, satu perhatian, dan satu kasih sayang mampu mengubah air mata menjadi harapan. Hingga hari ini, kisah tersebut tetap hidup sebagai pelajaran bagi umat manusia untuk tidak menutup mata terhadap mereka yang membutuhkan.
















