Lebaran dan Touring Keluarga: Potret Kebahagiaan yang Dijanjikan Islam

KOMPAS1.id || Idul Fitri selalu datang sebagai momentum yang dipenuhi suka cita. Setiap tahun kita merayakannya dengan penuh kegembiraan, menghidupkan berbagai tradisi yang menautkan kebersamaan umat Islam di seluruh dunia.

banner 336x280

Kemeriahan Lebaran telah menjelma menjadi perayaan global sebuah pesta kebahagiaan yang menghubungkan hati-yang kembali suci.

Di antara ragam cara merayakan Lebaran, kegiatan touring atau perjalanan keluarga menjadi salah satu tradisi yang cukup sering dilakukan.

Tidak sedikit keluarga yang menjadikan momen usai Idul Fitri sebagai waktu khusus untuk bepergian bersama, bahkan hingga beberapa hari, seperti yang rutin dilakukan oleh salah seorang kerabat kami.

Setiap tahun, mereka melintasi antarprovinsi selama sekitar lima hari, menggunakan kendaraan pribadi dan dipimpin langsung oleh sang kepala keluarga sebagai sopir sekaligus penanggung jawab perjalanan.

Ini murni liburan keluarga—tanpa izin dinas, tanpa SPPD, tanpa fasilitas resmi. Semua unsur perjalanan adalah milik sendiri: mobil pribadi, tenaga pribadi, dana pribadi, seluruhnya dikelola sebagai bentuk tanggung jawab seorang suami kepada keluarganya.

Jika dianalisis, perjalanan semacam ini tentu menguras tenaga dan biaya. Sang suami harus mengemudi, menjaga fokus, memastikan keselamatan, memikirkan logistik, bahkan merogoh kocek yang tidak sedikit.

Lalu, mengapa ia tetap melakukannya setiap tahun tanpa jera? Apa tidak lelah? Tidak rugi?
Jawabannya jelas: karena semua itu menghasilkan kebahagiaan. Ada kepuasan batin, ada cinta yang tumbuh, ada kebersamaan yang tidak ternilai. Biaya yang dikeluarkan tidak pernah dianggap sebagai kerugian—justru sebagai ladang pahala dan investasi keluarga.

Sebagai muslim yang taat, sang suami memahami konsep infaq yang dijanjikan Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah (2):261:

“Perumpamaan orang-orang yang membelanjakan harta mereka di jalan Allah bagaikan sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai,dan pada setiap tangkai terdapat seratus biji.

Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki…”
Keyakinan ini membuatnya mantap: harta yang dikeluarkan untuk keluarga tidak pernah hilang.

Nafkah adalah bentuk infaq dalam lingkup keluarga; sesuatu yang dikeluarkan karena perintah agama dan menjadi kewajiban yang berpahala. Di situlah letak kebahagiaannya—bukan semata soal perjalanan, tetapi ketenangan karena sudah menunaikan amanah Allah.

Di sisi lain, istri mendapatkan haknya untuk dinafkahi, diajak, dan dilibatkan dalam kebersamaan keluarga. Ia pun menunaikan kewajibannya: mengikuti keputusan suaminya, mendukung perjalanan, serta menyiapkan kebutuhan keluarga selama bepergian—mulai dari pakaian, makanan, hingga keperluan anak-anak.

Perjalanan ini bukan sekadar touring; ia adalah gambaran kecil tentang bagaimana Islam memfasilitasi kebahagiaan dalam rumah tangga. Ada cinta, ada tanggung jawab, ada ibadah yang berjalan seiring, dan ada pahala yang mengalir dari setiap rupiah, tenaga, dan waktu yang dibelanjakan.

Lebaran menjadi bukan hanya momen kembali fitrah, tetapi juga momen merawat kebersamaan keluarga dalam bingkai ibadah.(red)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *