
ACEH SINGKIL kompas1.id — Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil diminta tidak abai terhadap prestasi anak-anak daerah, khususnya mereka yang telah mengharumkan nama Aceh Singkil di tingkat provinsi hingga nasional.
Hal tersebut disampaikan Budi Harjo, menyikapi polemik terkait siswa SLBN Al-Fansury Singkil, Fawwaz Javier Syafri, yang sebelumnya diberitakan tidak masuk dalam daftar siswa yang menerima penghargaan pada malam penganugerahan pelajar berprestasi Pemkab Aceh Singkil, (24/08/2026).
Menurut Budi, persoalan ini tidak seharusnya berhenti pada perdebatan apakah nama Fawwaz sudah masuk daftar penghargaan atau belum. Yang lebih penting adalah memastikan tidak ada satu pun anak daerah berprestasi yang luput dari perhatian dan apresiasi pemerintah.
“Pemkab jangan abai. Kalau benar penghargaan untuk Fawwaz sudah disiapkan, tentu kita apresiasi. Tetapi mekanisme komunikasi dan pendataan juga harus diperbaiki agar anak berprestasi tidak sampai merasa dilupakan,” ujar Budi Harjo.
Budi menilai prestasi Fawwaz patut mendapat perhatian serius. Fawwaz diketahui pernah meraih juara di tingkat provinsi, termasuk juara I bidang Teknologi Informasi (IT), serta mengikuti kompetisi hingga tingkat nasional.
“Ini bukan sekadar soal selembar sertifikat. Ada perjuangan anak, guru dan orang tua di belakang prestasi tersebut. Ketika seorang anak mampu membawa nama Aceh Singkil di bidang IT, pemerintah seharusnya hadir memberikan dukungan dan pembinaan,” tegasnya.
Budi juga meminta Pemkab Aceh Singkil tidak membedakan perhatian terhadap siswa berdasarkan status kewenangan sekolah. Menurutnya, meskipun SLBN Al-Fansury berada dalam kewenangan Pemerintah Aceh, para siswanya tetap merupakan putra-putri Aceh Singkil yang membawa nama daerah dalam berbagai kompetisi.
“Jangan melihat hanya dari siapa yang mengelola sekolahnya. Lihat anaknya, lihat prestasinya, dan lihat nama daerah yang dibawanya. Kalau anak Aceh Singkil berprestasi, pemerintah daerah seharusnya ikut bangga dan memberikan ruang pembinaan,” katanya.
Ia meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Singkil memperbaiki sistem pendataan pelajar berprestasi serta membangun komunikasi yang lebih aktif dengan sekolah, guru dan orang tua.
“Di zaman sekarang, komunikasi sangat mudah. Kalau ada anak yang mendapatkan penghargaan, sekolah dan orang tua harus diberi informasi yang jelas. Jangan sampai muncul polemik hanya karena komunikasi tidak berjalan maksimal,” ujar Budi.
Budi menegaskan, pemerintah tidak cukup hanya memberikan penghargaan secara seremonial. Anak-anak berprestasi harus mendapatkan pembinaan, fasilitas, pendampingan dan dukungan berkelanjutan, terutama untuk bidang yang membutuhkan pengembangan teknologi dan keterampilan seperti IT.
“Kalau kita serius ingin membangun sumber daya manusia Aceh Singkil, talenta seperti Fawwaz harus dirawat. Jangan sampai anak-anak kita berprestasi tetapi pemerintah hanya hadir setelah prestasinya menjadi pemberitaan,” tegasnya.
Budi Harjo berharap persoalan ini menjadi bahan evaluasi bagi Pemkab Aceh Singkil agar ke depan tidak ada lagi pelajar berprestasi yang terlewat dari pendataan maupun apresiasi.
“Pemkab jangan abai. Anak-anak berprestasi adalah aset daerah. Mereka bukan hanya membutuhkan tepuk tangan ketika menang, tetapi juga membutuhkan pemerintah yang hadir untuk mendukung langkah mereka menuju prestasi yang lebih tinggi,” pungkas Budi Harjo. (SB)











