KOMPAS1.ID || Di pelosok negeri ini, ada sebuah jalur yang bukan lagi disebut sebagai akses transportasi, melainkan “jalur pertaruhan nyawa”. Jembatan kayu yang menghubungkan Desa Nanga Ngeri menuju Desa Landau Badai, Kecamatan Silat Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, kini berdiri sebagai monumen nyata kegagalan pembangunan.
Kondisinya hancur lebur, lapuk dimakan usia, dan terus-menerus menelan keberanian warga yang terpaksa melintasinya demi menyambung hidup.
Insiden yang nyaris merenggut nyawa pengendara baru-baru ini bukan sekadar kecelakaan tunggal. Itu adalah alarm keras bahwa jembatan ini sudah di ambang maut.
Kayu-kayu penyangga yang retak dan lubang-lubang besar di tengah jembatan adalah saksi bisu betapa masyarakat di wilayah Silat Hulu ini dibiarkan berjuang sendirian melawan maut setiap hari.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, yang lebih memilukan dari rusaknya kayu-kayu jembatan tersebut adalah rusaknya nurani para pemangku kebijakan.
Kita berbicara tentang hierarki kekuasaan, mulai dari tingkat Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, hingga pemerintah pusat di Jakarta.
Ke mana mereka saat warga berjuang di atas jembatan yang rapuh ini? Selama masa kampanye, jembatan ini mungkin hanya dijadikan komoditas politik—dijanjikan akan diperbaiki, difoto, dan dipamerkan untuk meraup suara. Namun, begitu kursi kekuasaan diduduki, seolah-olah terjadi amnesia massal. Mereka menutup mata, menutup telinga, dan mungkin sengaja mematikan empati mereka.
Pola ini sudah menjadi rahasia umum: rakyat “dijual” janji manis saat pemilu, lalu “dibuang” dan diabaikan saat infrastruktur dasarnya hancur total. Apakah bagi mereka, nyawa warga di pelosok Nanga Ngeri dan Landau Badai tidak sebanding dengan anggaran yang mereka alokasikan untuk proyek-proyek pencitraan di pusat kota?
Kepada Bapak dan Ibu yang duduk nyaman di kursi empuk kantor pemerintahan, baik di daerah maupun di Senayan: Apakah kalian tidak merasa malu?
Kalian menikmati fasilitas negara yang memadai, berkendara di atas aspal mulus, sementara di sini, saudara-saudara kita harus bertaruh nyawa di atas jembatan yang hanya menunggu waktu untuk runtuh sepenuhnya.
Jangan tunggu ada “upacara pemakaman” akibat jatuhnya korban jiwa baru kalian bereaksi. Jangan tunggu ada viral di media sosial baru kalian melakukan peninjauan yang penuh drama.
Kami menuntut tanggung jawab nyata, bukan sekadar janji di atas kertas. Kami menuntut aksi konkret yang segera memperbaiki akses vital ini.
Rakyat Nanga Ngeri dan Landau Badai di Kecamatan Silat Hulu bukan warga negara kelas dua. Mereka adalah bagian dari bangsa yang berhak atas rasa aman dan pembangunan yang merata.
Jika kalian masih memiliki sisa integritas dan rasa kemanusiaan, turunlah ke lapangan sekarang juga.
Lihat sendiri betapa rapuhnya akses ini, dan rasakan betapa beratnya beban warga yang setiap hari berdoa agar jembatan ini tidak runtuh saat mereka melintas.
Negara harus hadir sekarang, sebelum jembatan ini benar-benar menelan korban jiwa yang tak tergantikan.
Reporter: Dedi, Kompas1.id
Apakah draf ini sudah sesuai dengan














