KOMPAS1.ID
Bandung, Jumat, 05 Juni 2026 — “Kadang kita memberi bukan karena kita kaya, tapi karena kita tahu bagaimana rasanya tidak punya.”
Kalimat penuh makna itu terpampang jelas dalam poster gerakan kemanusiaan yang digelar di Kota Bandung hari ini. Sebuah pesan reflektif yang mengajak kita merenungkan hakikat beragama yang sejati: inklusif, solutif, dan membawa rahmat bagi seluruh alam (Rahmatan lil ‘Alamin).
Hari Jumat memiliki kedudukan istimewa dalam kesadaran spiritual umat Muslim. Bukan sekadar penanda waktu, hari ini menjadi momentum untuk mewujudkan nilai keimanan lewat tindakan nyata. Dan pada Jumat, 5 Juni 2026 ini, nuansa keteduhan itu begitu terasa di kawasan sekitar Masjid Muslimin, Jalan Talaga Bodas—yang terhubung dengan titik kegiatan di Jalan Palasari Nomor 17, Bandung. Di tempat itu, kolaborasi kebaikan bergerak masif lewat aksi sosial bertajuk “Jumat Berkah: Berbagi Nasi Box – Ceban to Heaven”, yang digagas oleh komunitas Lendeng N D’Gank Chapter Timur.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gerakan ini mencuri perhatian publik bukan hanya karena namanya yang unik—menggabungkan bahasa gaul anak muda dengan visi menuju akhirat—tetapi karena nilai moderasi Islam yang kental di dalamnya. Dengan jargon “Ceban to Heaven” (Sepuluh Ribu Menuju Surga), komunitas ini bersama pengurus masjid dan warga sekitar mendobrak batasan kaku dalam beragama. Kehadiran Masjid Muslimin sebagai pusat kegiatan kembali menegaskan fungsi utama rumah ibadah dalam Islam: bukan hanya tempat bersujud, melainkan pusat pelayanan sosial dan penggerak kesejahteraan masyarakat sekitar.
Dalam ajaran Islam moderat atau Wasathiyah, umat diajarkan untuk menyeimbangkan dua sisi ibadah: kesalehan ritual kepada Tuhan (hablum minallah) dan kesalehan sosial kepada sesama manusia (hablum minannas). Di lokasi kegiatan hari ini, keseimbangan itu terlihat nyata. Anggota komunitas motor yang kerap kali lekat dengan pandangan negatif di mata masyarakat, justru tampil sebagai pelopor kebaikan yang berpusat di rumah ibadah. Mereka membuktikan bahwa penampilan kasual atau identitas sebagai anak motor bukanlah penghalang untuk menjadi pribadi yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Suasana kebersamaan begitu terasa hangat. Antrean warga memanjang, terdiri dari beragam kalangan: jamaah masjid, pedagang kecil, pelajar, hingga lansia. Ini adalah bukti nyata terbentuknya persaudaraan kemanusiaan atau ukhuwah basyariyah. Uang sepuluh ribu rupiah—atau akrab disebut ceban—yang nilainya mungkin terasa kecil bagi sebagian orang, berubah menjadi kekuatan besar saat dikumpulkan dan dikelola dengan ketulusan bersama.
Dari sisi redaksi, integrasi gerakan pemuda dengan simpul-simpul rumah ibadah seperti yang terjadi di kawasan Masjid Muslimin ini adalah model dakwah kekinian yang patut dicontoh dan dikembangkan luas. Di tengah tantangan ekonomi dan dinamika kota yang semakin rumit, kesalehan tidak boleh hanya diam. Ia harus hadir dalam wujud nyata, lahir dari kesadaran bahwa di sebagian rezeki yang kita miliki, selalu ada hak orang lain yang wajib kita tunaikan.
Lewat gerakan “Ceban to Heaven”, kita diajak memahami cara beragama yang teduh, terbuka, dan penuh harapan. Bahwa surga bukanlah milik eksklusif mereka yang merasa paling suci, melainkan tujuan bagi siapa saja yang berusaha meraih rida Allah lewat tangan yang ringan membantu beban sesama.
Semoga keteguhan, keikhlasan, dan keberkahan senantiasa menyertai langkah mulia ini, menjadikan tanah Pasundan senantiasa damaikan oleh kasih sayang sesama manusia.
(#Lendeng Chapter Timur #PeduliSesama)
BOB HARIAWAN
KABIRO KOTA BANDUNG














