Kompas1.id
Di era di mana kesehatan sering kali terasa seperti barang mewah yang dihargai dengan nominal angka yang mencekik, kita dipaksa untuk menundukkan kepala di hadapan sebuah nama: dr. FX Soedanto. Sosok pria berambut putih yang selama 50 tahun terakhir mengukir arti kata “pahlawan” yang sesungguhnya di atas tanah Papua.jum.at 5 juli 2026
Lahir di Kebumen pada tahun 1948, Dokter Soedanto muda adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 1975. Ketika program Dokter Inpres dibuka dan ia ditanya ke mana ia ingin ditempatkan, ia tidak memilih kenyamanan kota besar atau gemerlap karier yang mapan. Jarinya menunjuk pada sebuah pulau di ujung timur Indonesia: Papua. Sebuah pilihan yang kemudian mengubah jalannya sejarah kemanusiaan di sana.
Langkah awalnya dimulai di pedalaman Asmat. Selama enam tahun, tanpa adanya akses jalan raya ataupun kendaraan, Dokter Soedanto berjalan kaki keluar-masuk hutan belantara, melintasi rawa-rawa dari satu desa ke desa lain demi menemui pasiennya yang sakit. Di sana, uang tak ada artinya. Ia sering kali pulang dengan membawa seikat kayu bakar, rempah-rempah, sebongkah sagu, atau bahkan sekadar ucapan terima kasih yang tulus dari bibir masyarakat adat. Bagi Soedanto, itu sudah lebih dari cukup.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Panggilan jiwanya berlanjut pada tahun 1982 ketika ia dipindahkan ke RSJ Abepura, Jayapura. Selama hampir dua dekade, ia merawat pasien-pasien gangguan jiwa sendirian—menjadi satu-satunya dokter yang bertahan karena tidak ada dokter lain yang sudi ditempatkan di sana. Soedanto menetap bukan karena terjebak, melainkan karena kesadaran penuh untuk selalu berada di tempat yang paling sedikit orang mau hadir.
Ketika tarif rumah sakit dan klinik swasta terus meroket melampaui daya beli masyarakat bawah, Dokter Soedanto memilih jalan sunyi. Di tempat praktiknya, ia menetapkan tarif yang di luar akal sehat: Rp2.000 saja. Angka yang dipertahankannya selama puluhan tahun hingga ia kerap dijuluki “Dokter Seribu Rupiah” atau “Dokter Dua Ribu Rupiah”. Dan bagi mereka yang benar-benar tidak memiliki uang sepeser pun? Ia menggratiskan jasanya tanpa sedikit pun mengurangi keramahan serta ketelitiannya dalam memeriksa. Tak heran, setiap hari hingga 200 pasien rela mengular mengantre di depan rumahnya.
Meski secara administratif ia telah resmi pensiun sejak tahun 2013, pintu rumah praktiknya di Abepura tidak pernah tertutup bagi yang sakit. Di usianya yang kini kian senja, dengan fisik yang mulai digerogoti lelah, ia tetap setia memegang stetoskopnya. Saat ditanya mengapa tidak beristirahat saja menikmati masa tua, jawabannya lugas namun meruntuhkan ego kita semua: “Pensiun itu status administratif, bukan alasan untuk berhenti melayani. Tanggung jawab saya bukan hanya kepada negara, tetapi kepada Tuhan.”
Ketulusan yang melampaui batas ego ini tidak hanya menyembuhkan penyakit fisik, tetapi juga menyalakan api harapan. Pengabdiannya yang sempat dianugerahi penghargaan Liputan 6 Awards pada tahun 2013 telah melahirkan keajaiban baru. Terinspirasi oleh ketulusan sang dokter, seorang anak buruh bangunan di Papua bertekad mengikuti jejaknya. Anak tersebut kini berhasil diterima di Fakultas Kedokteran UGM—almamater yang sama dengan sang mentor—membawa estafet kebaikan yang dulu ditanam Soedanto di tanah Papua.
Melalui lembar redaksi hari ini, kita tidak hanya sedang membaca biografi seorang dokter tua. Kita sedang dihadapkan pada cermin besar untuk merefleksikan diri: Di manakah posisi kemanusiaan kita hari ini?
Dokter FX Soedanto telah mengajarkan kepada kita bahwa profesi bukanlah alat pemuas keserakahan, melainkan jembatan cinta kasih. Setengah abad di Papua, beliau tidak menimbun harta, namun ia telah kaya oleh doa-doa tulus dari ribuan jiwa yang telah diselamatkannya.
Terima kasih, Dokter Soedanto. Dedikasimu adalah mata air yang menyegarkan dahaga kemanusiaan bangsa ini.
BOB HARIAWAN
Kabiro Kota Bandung














