Kompas1.id
TEHERAN / WASHINGTON, 26 MEI 2026 – Harapan dunia akan meredanya ketegangan di Timur Tengah kembali diuji berat. Fase gencatan senjata sementara yang baru berjalan sejak awal April kini terancam runtuh sepenuhnya, seiring memanasnya kembali hubungan antara Amerika Serikat dan Republik Iran. Gesekan militer terbaru di lapangan dan pertukaran pernyataan keras dari kedua pihak dinilai para pengamat mampu merobek benang-benang diplomasi yang sedang berusaha dirajut dalam perundingan di Doha, Qatar.
Pemicu eskalasi terbaru adalah serangan udara mendadak yang dilancarkan Pasukan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) ke sejumlah lokasi di wilayah Iran bagian selatan. Pemerintah Washington melalui pernyataan resminya membenarkan aksi tersebut sebagai langkah pertahanan diri, dengan alasan harus menetralisir situs peluncuran rudal serta kapal-kapal yang diduga bersiap memasang ranjau di jalur perairan.
Namun, pandangan ini sangat berbeda di mata Teheran. Pihak Iran menilai serangan itu sebagai pelanggaran berat terhadap kesepakatan gencatan senjata yang disepakati pasca-konfrontasi terbuka yang terjadi sejak Februari lalu. Bagi Teheran, tindakan militer AS adalah ancaman nyata yang berpotensi memicu kembali pertempuran terbuka.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Paradoks Diplomasi Donald Trump
Di tengah situasi yang tegang itu, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan yang dinilai saling bertolak belakang dan membingungkan pasar global. Di satu sisi, ia mengklaim perundingan damai sudah “hampir selesai” dan jalur strategis Selat Hormuz akan segera dibuka kembali untuk pelayaran internasional.
Namun di sisi lain, Trump menegaskan blokade laut yang diberlakukan Angkatan Laut AS akan terus berjalan sepenuhnya sampai Iran memberikan konsesi konkret terkait program nuklirnya. Gedung Putih secara tegas menolak pola kesepakatan lama seperti Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA), dan kini menuntut penyerahan seluruh stok uranium yang telah diperkaya tingkat tinggi. Strategi negosiasi yang keras ini sengaja diulur, karena pihak AS meyakini faktor waktu dan tekanan ekonomi saat ini lebih menguntungkan posisi Washington.
Keteguhan Sikap Teheran
Tekanan yang kian kuat itu justru membuat posisi Iran makin kaku dan tidak mau bergeser. Melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, pemerintah Teheran menegaskan negaranya tidak akan mengemis pelonggaran sanksi atau menerima kompromi sepihak dari Amerika Serikat. Fokus utama diplomasi Iran saat ini hanya satu: pemulihan penuh hak-hak kedaulatan nasional yang diakui hukum internasional.
Perselisihan paling tajam justru muncul di luar isu nuklir, yakni terkait kedaulatan perairan. Iran bersama Oman terus menegaskan Selat Hormuz sebagai wilayah perairan teritorial mereka. Dalam draf nota kesepahaman (MoU) yang dibahas, Iran berencana menerapkan tarif transit bagi kapal-kapal asing yang melintas. Langkah ini ditolak mentah-mentah oleh Amerika Serikat dan sekutu Barat, yang menilai selat tersebut adalah jalur air internasional yang harus bebas dan terbuka untuk semua pihak tanpa syarat. Perbedaan prinsip ini menjadi ganjalan terbesar yang menghambat kesepakatan akhir.
Dampak Nyata bagi Lanskap Global
Ketidakpastian geopolitik ini langsung berdampak nyata dan menimbulkan efek domino di panggung ekonomi dunia, terutama pada dua sektor krusial:
– Tersumbatnya Jalur Energi: Saat ini tercatat sekitar 166 kapal pengangkut minyak terjebak dan tertahan di wilayah Teluk Persia, dengan total muatan mencapai 170 juta barel minyak mentah. Para ahli memproyeksikan, sekalipun kesepakatan damai ditandatangani hari ini, pemulihan kelancaran arus logistik dan pelayaran di wilayah tersebut baru akan berjalan normal sepenuhnya dalam kurun waktu sekitar tiga bulan ke depan.
– Harga Minyak Bergejolak: Meskipun harga minyak dunia saat ini masih bertahan di bawah angka psikologis 100 dolar AS per barel, fluktuasi tajam kembali terjadi pasca-serangan udara AS di Iran selatan. Pasar cenderung bersikap skeptis dan menahan diri dari spekulasi besar-besaran, menunggu bukti nyata bahwa pertempuran benar-benar berhenti dan jalur suplai aman kembali.
Melihat seluruh dinamika yang berkembang, Timur Tengah kini berdiri di persimpangan jalan yang sangat krusial. Jika meja perundingan di Qatar gagal menjembatani jurang perbedaan soal hak nuklir dan status kedaulatan Selat Hormuz, maka gencatan senjata yang ada saat ini hanyalah jeda sesaat sebelum badai konfrontasi yang lebih besar kembali meledak.
BOB HARIAWAN
Kabiro Kota Bandung














