Kaya Hasil Bumi, Masyarakat Pribumi Kalimantan Merasa Belum Menjadi Tuan di Tanah Sendiri

- Penulis

Rabu, 20 Mei 2026 - 00:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KALIMANTAN KOMPAS1.ID
Kalimantan dikenal sebagai pulau yang sangat kaya. Hutan hijau terbentang luas, sungai menjadi sumber kehidupan, serta hasil bumi seperti kelapa sawit, emas, batu bara, dan kayu terus mengalir menghasilkan keuntungan bernilai triliunan rupiah setiap tahunnya. Namun di balik limpahan kekayaan alam itu, masih banyak masyarakat pribumi yang merasa belum benar-benar menjadi tuan di negeri sendiri.

Kini, istilah penjajahan modern mulai banyak diperbincangkan di tengah masyarakat. Bukan lagi penjajahan dengan senjata dan kekerasan seperti masa lampau, melainkan penjajahan melalui jalur ekonomi, penguasaan oleh perusahaan besar, serta permainan kekuasaan yang membuat hasil kekayaan alam lebih banyak dinikmati pihak luar.

Setiap hari, ribuan ton hasil bumi diangkut keluar daerah bahkan ke luar negeri. Keuntungan perusahaan terus melonjak tinggi, namun kondisi kehidupan masyarakat di sekitar lokasi pengelolaan belum menunjukkan perubahan yang berarti. Banyak dari mereka masih kesulitan meningkatkan taraf hidup, apalagi mendapatkan posisi yang layak dan strategis dalam pengelolaan sumber daya alam di tanah kelahirannya sendiri.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Yang paling menyakitkan, menurut pengamatan masyarakat, adalah sempitnya ruang yang diberikan bagi putra daerah untuk berkarier dan memimpin di perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kalimantan. Jumlah pribumi yang menduduki jabatan tinggi bisa dihitung dengan jari, bahkan seringkali hanya satu atau dua orang saja yang berhasil menembus posisi penting. Lebih miris lagi, posisi tersebut jarang bertahan lama.

Banyak warga menilai adanya berbagai tekanan dan permainan sistem yang membuat putra daerah sulit bertahan di posisi strategis. Secara perlahan mereka dibuat tidak nyaman, dipersulit dalam pekerjaan, hingga akhirnya tersingkir dan kehilangan ruang untuk berkembang. Fenomena ini membuat generasi muda mulai merasa bahwa meski tanah mereka kaya, peluang besar justru lebih banyak dikuasai orang dari luar, sementara anak daerah hanya berakhir sebagai pekerja biasa tanpa kesempatan memimpin.

Baca Juga:  DRIVER OJOL JADI RELAWAN, HASAN FIIDEL AKTIF TAMBAL JALAN BERLUBANG DI BANDUNG

Menyikapi kondisi ini, masyarakat berharap agar seluruh kepala daerah di Kalimantan Barat, tokoh adat, tokoh pemuda, serta pemerintah dapat bertindak lebih serius. Diharapkan ada upaya nyata dalam memberikan edukasi, perlindungan, serta membuka kesempatan seluas-luasnya bagi putra daerah. Anak muda Kalimantan harus dipersiapkan menjadi pemimpin, bukan hanya menjadi buruh di tanah sendiri. Pendidikan, pelatihan keterampilan, dan kesempatan kerja harus dibuka secara adil dan merata.

Selain itu, perusahaan yang beroperasi di wilayah ini juga diharapkan memiliki tanggung jawab sosial yang nyata, bukan hanya sekadar formalitas. Jangan hanya datang mengambil kekayaan alam dan meraup keuntungan sebesar-besarnya, lalu pergi tanpa meninggalkan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. Jika alam Kalimantan mampu menghasilkan kekayaan yang luar biasa, maka warga yang menjaga tanah ini sejak turun-temurun juga wajib merasakan kesejahteraan, kemajuan karier, serta masa depan yang lebih baik.

Pesan tegas yang disampaikan masyarakat adalah: ini bukan tentang kebencian terhadap pendatang atau orang luar, karena setiap orang memiliki hak yang sama untuk bekerja dan mencari penghidupan. Namun masyarakat pribumi juga ingin dihargai dan mendapatkan kesempatan yang setara di tanah kelahirannya sendiri.

Kalimantan bukan hanya sekadar tempat mengambil kekayaan alam, melainkan rumah bagi masyarakat yang telah menjaga dan merawat tanah ini sejak zaman dahulu. Hingga kini, satu hal yang paling diharapkan dan dituntut adalah keadilan. Agar putra daerah bisa berdiri tegak, mampu memimpin, bertahan di jabatan tinggi tanpa tekanan, serta dapat menikmati hasil bumi dari tanah yang mereka jaga selama berabad-abad lamanya.

Reporter: DIDY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

JOKOWI HADIRI RAKORDA PSI JABAR, MINTA STRUKTUR PARTAI AKTIF DAN DEKAT DENGAN RAKYAT
Cibadak Culinary Day and Night Meriahkan HJKB ke-216, Bawa Nuansa Nostalgia Era 80–90-an
Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union” di Laswi Heritage
Mengaku Wartawan Trans TV dari Medan, Empat Oknum Bikin Resah Sekolah di kecamatan Sultan Daulat
Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union”
Kuasa Hukum Tegaskan Suryadi Sah Terpilih sebagai Kepala Desa Lae Ikan
Perkuat Pembangunan Desa, Pemdes Tenjolaya Gandeng Unpas
Semarak HUT TNI ke-81, TNI-Polri dan Komunitas Bersatu Gelar Touring, Karya Bakti dan Bakti Sosial di Goa Seplawan
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 01:50 WIB

JOKOWI HADIRI RAKORDA PSI JABAR, MINTA STRUKTUR PARTAI AKTIF DAN DEKAT DENGAN RAKYAT

Sabtu, 26 September 2026 - 12:38 WIB

Cibadak Culinary Day and Night Meriahkan HJKB ke-216, Bawa Nuansa Nostalgia Era 80–90-an

Sabtu, 26 September 2026 - 11:21 WIB

Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union” di Laswi Heritage

Sabtu, 26 September 2026 - 11:13 WIB

Mengaku Wartawan Trans TV dari Medan, Empat Oknum Bikin Resah Sekolah di kecamatan Sultan Daulat

Sabtu, 26 September 2026 - 10:05 WIB

Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union”

Berita Terbaru