KALIMANTAN KOMPAS1.ID
Kalimantan dikenal sebagai pulau yang sangat kaya. Hutan hijau terbentang luas, sungai menjadi sumber kehidupan, serta hasil bumi seperti kelapa sawit, emas, batu bara, dan kayu terus mengalir menghasilkan keuntungan bernilai triliunan rupiah setiap tahunnya. Namun di balik limpahan kekayaan alam itu, masih banyak masyarakat pribumi yang merasa belum benar-benar menjadi tuan di negeri sendiri.
Kini, istilah penjajahan modern mulai banyak diperbincangkan di tengah masyarakat. Bukan lagi penjajahan dengan senjata dan kekerasan seperti masa lampau, melainkan penjajahan melalui jalur ekonomi, penguasaan oleh perusahaan besar, serta permainan kekuasaan yang membuat hasil kekayaan alam lebih banyak dinikmati pihak luar.
Setiap hari, ribuan ton hasil bumi diangkut keluar daerah bahkan ke luar negeri. Keuntungan perusahaan terus melonjak tinggi, namun kondisi kehidupan masyarakat di sekitar lokasi pengelolaan belum menunjukkan perubahan yang berarti. Banyak dari mereka masih kesulitan meningkatkan taraf hidup, apalagi mendapatkan posisi yang layak dan strategis dalam pengelolaan sumber daya alam di tanah kelahirannya sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Yang paling menyakitkan, menurut pengamatan masyarakat, adalah sempitnya ruang yang diberikan bagi putra daerah untuk berkarier dan memimpin di perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kalimantan. Jumlah pribumi yang menduduki jabatan tinggi bisa dihitung dengan jari, bahkan seringkali hanya satu atau dua orang saja yang berhasil menembus posisi penting. Lebih miris lagi, posisi tersebut jarang bertahan lama.
Banyak warga menilai adanya berbagai tekanan dan permainan sistem yang membuat putra daerah sulit bertahan di posisi strategis. Secara perlahan mereka dibuat tidak nyaman, dipersulit dalam pekerjaan, hingga akhirnya tersingkir dan kehilangan ruang untuk berkembang. Fenomena ini membuat generasi muda mulai merasa bahwa meski tanah mereka kaya, peluang besar justru lebih banyak dikuasai orang dari luar, sementara anak daerah hanya berakhir sebagai pekerja biasa tanpa kesempatan memimpin.
Menyikapi kondisi ini, masyarakat berharap agar seluruh kepala daerah di Kalimantan Barat, tokoh adat, tokoh pemuda, serta pemerintah dapat bertindak lebih serius. Diharapkan ada upaya nyata dalam memberikan edukasi, perlindungan, serta membuka kesempatan seluas-luasnya bagi putra daerah. Anak muda Kalimantan harus dipersiapkan menjadi pemimpin, bukan hanya menjadi buruh di tanah sendiri. Pendidikan, pelatihan keterampilan, dan kesempatan kerja harus dibuka secara adil dan merata.
Selain itu, perusahaan yang beroperasi di wilayah ini juga diharapkan memiliki tanggung jawab sosial yang nyata, bukan hanya sekadar formalitas. Jangan hanya datang mengambil kekayaan alam dan meraup keuntungan sebesar-besarnya, lalu pergi tanpa meninggalkan dampak positif yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar. Jika alam Kalimantan mampu menghasilkan kekayaan yang luar biasa, maka warga yang menjaga tanah ini sejak turun-temurun juga wajib merasakan kesejahteraan, kemajuan karier, serta masa depan yang lebih baik.
Pesan tegas yang disampaikan masyarakat adalah: ini bukan tentang kebencian terhadap pendatang atau orang luar, karena setiap orang memiliki hak yang sama untuk bekerja dan mencari penghidupan. Namun masyarakat pribumi juga ingin dihargai dan mendapatkan kesempatan yang setara di tanah kelahirannya sendiri.
Kalimantan bukan hanya sekadar tempat mengambil kekayaan alam, melainkan rumah bagi masyarakat yang telah menjaga dan merawat tanah ini sejak zaman dahulu. Hingga kini, satu hal yang paling diharapkan dan dituntut adalah keadilan. Agar putra daerah bisa berdiri tegak, mampu memimpin, bertahan di jabatan tinggi tanpa tekanan, serta dapat menikmati hasil bumi dari tanah yang mereka jaga selama berabad-abad lamanya.
Reporter: DIDY














