Air Hujan sebagai Rahmat Ramadan: Pesantren Gerakan Menumbuhkan Kesadaran Ekologis Kaum Muda

- Penulis

Senin, 2 Maret 2026 - 09:12 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bantul, DIY || Kompas1.id –

Bulan suci Ramadan tidak hanya menjadi ruang peningkatan spiritualitas, tetapi juga momentum untuk memperkuat kepedulian sosial dan kesadaran ekologis. Nilai-nilai puasa mengajarkan kesederhanaan, pengendalian diri, serta empati terhadap keterbatasan akses kebutuhan dasar, termasuk ketersediaan air bersih yang kini semakin menjadi tantangan di berbagai wilayah Indonesia.

Di tengah ancaman krisis iklim dan menurunnya kualitas serta ketersediaan air tanah, refleksi keagamaan perlu diwujudkan dalam tindakan nyata menjaga keberlanjutan lingkungan hidup. Kesadaran bahwa air merupakan sumber kehidupan menuntut adanya perubahan pola konsumsi sekaligus upaya konservasi yang berkelanjutan.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri menghadapi persoalan serius berupa penurunan muka air tanah dan meningkatnya kebutuhan air akibat pertumbuhan penduduk serta pembangunan.

Eksploitasi air tanah yang tidak diimbangi dengan upaya pengembalian air ke dalam tanah berpotensi memperparah kerentanan ekologis maupun sosial di masa depan.

Salah satu solusi yang mulai diperkenalkan kepada masyarakat adalah praktik pemanenan air hujan (rainwater harvesting).

Metode ini dinilai sederhana, ramah lingkungan, serta dapat dilakukan secara mandiri di tingkat keluarga maupun komunitas sebagai langkah adaptasi menghadapi krisis air.

Merespons kondisi tersebut, komunitas GUSDURian Jogja, bersama PMII Sleman, PMII UGM, dan IPPNU DIY, menyelenggarakan kegiatan bertajuk“Pesantren Gerakan”, sebuah ruang pembelajaran yang memadukan nilai keislaman, pemikiran kritis, serta kepemimpinan transformatif dalam semangat kemanusiaan ala Gus Dur.

Kegiatan ini dilaksanakan pada Ahad, 1 Maret 2026, di Griya GUSDURian, Banguntapan, Bantul, dan diikuti oleh puluhan anak muda, aktivis, serta mahasiswa dari berbagai organisasi di Yogyakarta maupun luar daerah. Peserta terdiri dari 40 santri gerakan, masing-masing 20 peserta putra dan 20 peserta putri.

Dalam kegiatan tersebut, hadir Sri Wahyuningsih, pendiri Sekolah Air Hujan Banyu Bening, sebagai narasumber sekaligus praktisi konservasi air hujan. Perempuan yang akrab disapa Bu Ning ini memperkenalkan praktik pengelolaan air hujan melalui sistem ISLAH (Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan) yang mampu menampung hingga 6.000 liter air.

Baca Juga:  Diduga Aniaya Rekan Kerja dengan Sajam, Perselisihan Pekerja Perantauan di Bojong Berakhir Damai

Menurutnya, air hujan merupakan rahmat Tuhan yang sering diabaikan. Melalui edukasi sederhana, masyarakat sebenarnya dapat memanfaatkan air hujan secara aman untuk kebutuhan konsumsi maupun rumah tangga, selama mengikuti prosedur pengelolaan yang benar.

Ia menjelaskan bahwa hujan pertama setelah musim kemarau sebaiknya tidak langsung ditampung agar polutan yang menempel di udara dan atap terlebih dahulu tersapu alami.

Setelah itu, air hujan dapat ditampung menggunakan wadah bersih, disaring dengan kain berlapis, lalu disimpan di tempat tertutup dan teduh agar kualitas air tetap terjaga.

Konsep yang diperkenalkan dalam pelatihan ini dikenal dengan prinsip 5M, yakni menampung, mengolah, minum, menabung, dan mandiri, sebagai pendekatan ekologis berbasis komunitas menuju kedaulatan air.

Selain aspek teknis, kegiatan ini juga menekankan pentingnya kepemimpinan ekologis di kalangan generasi muda. Nilai keislaman dipahami sebagai amanah untuk menjalankan peran manusia sebagai khalifah fil ardh—penjaga keseimbangan bumi sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 30.

Bu Ning turut mengingatkan firman Allah dalam Surah An-Nahl ayat 10 bahwa air hujan diturunkan sebagai sumber kehidupan bagi manusia, tumbuhan, dan seluruh makhluk hidup.

Melalui Pesantren Gerakan, para peserta diharapkan mampu menjadi generasi solusi yang tidak hanya memiliki kesadaran spiritual, tetapi juga keberanian berinovasi menjaga lingkungan. Kesadaran ekologis dipandang sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral dalam merawat bumi sebagai satu-satunya rumah bersama umat manusia.

 

 

Sumber: AJ. Purwanto
@AndiSuka_2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

JOKOWI HADIRI RAKORDA PSI JABAR, MINTA STRUKTUR PARTAI AKTIF DAN DEKAT DENGAN RAKYAT
Cibadak Culinary Day and Night Meriahkan HJKB ke-216, Bawa Nuansa Nostalgia Era 80–90-an
Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union” di Laswi Heritage
Mengaku Wartawan Trans TV dari Medan, Empat Oknum Bikin Resah Sekolah di kecamatan Sultan Daulat
Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union”
Kuasa Hukum Tegaskan Suryadi Sah Terpilih sebagai Kepala Desa Lae Ikan
Perkuat Pembangunan Desa, Pemdes Tenjolaya Gandeng Unpas
Semarak HUT TNI ke-81, TNI-Polri dan Komunitas Bersatu Gelar Touring, Karya Bakti dan Bakti Sosial di Goa Seplawan
Berita ini 117 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 01:50 WIB

JOKOWI HADIRI RAKORDA PSI JABAR, MINTA STRUKTUR PARTAI AKTIF DAN DEKAT DENGAN RAKYAT

Sabtu, 26 September 2026 - 12:38 WIB

Cibadak Culinary Day and Night Meriahkan HJKB ke-216, Bawa Nuansa Nostalgia Era 80–90-an

Sabtu, 26 September 2026 - 11:13 WIB

Mengaku Wartawan Trans TV dari Medan, Empat Oknum Bikin Resah Sekolah di kecamatan Sultan Daulat

Sabtu, 26 September 2026 - 10:05 WIB

Apresiasi Lendeng Bikers Indonesia untuk “The Kulture Union”

Sabtu, 26 September 2026 - 08:41 WIB

Kuasa Hukum Tegaskan Suryadi Sah Terpilih sebagai Kepala Desa Lae Ikan

Berita Terbaru