KOMPAS1.id || Masyarakat Kecamatan Silat Hulu, khususnya Desa Landau Badai dan wilayah sekitarnya, sudah terlalu lama menantikan pembangunan yang benar-benar dapat dirasakan manfaatnya.
Setiap pergantian pemimpin selalu diiringi janji pemerataan pembangunan, peningkatan infrastruktur, dan kesejahteraan masyarakat. Namun hingga kini, masih banyak harapan yang belum terwujud.
Masyarakat tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan hak yang sama sebagai warga negara untuk memperoleh pembangunan yang layak, merata, dan berkelanjutan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sayangnya, yang sering terlihat hanyalah pergantian pemimpin dan pergantian janji. Saat masa kampanye tiba, rakyat menjadi pusat perhatian.
Berbagai program dan komitmen disampaikan dengan penuh keyakinan. Namun setelah kekuasaan diraih, aspirasi masyarakat perlahan menghilang dari prioritas.
Salah satu contoh yang paling nyata adalah pembangunan jembatan beton yang direncanakan menghubungkan Dusun Nanga Pengga dengan Desa Landau Badai.
Proyek yang semula diharapkan menjadi solusi pembuka akses dan penggerak aktivitas ekonomi masyarakat hingga kini belum memberikan manfaat sebagaimana yang dijanjikan.
Yang tersisa hanyalah struktur beton yang berdiri tanpa fungsi yang jelas, sementara waktu terus berlalu.
Bangunan yang dibangun dengan anggaran tidak sedikit itu kini menjadi simbol ironi pembangunan.
Lumut mulai menutupi permukaannya, rumput liar tumbuh di sekelilingnya, dan alam perlahan mengambil alih konstruksi yang seharusnya menjadi sarana penghubung bagi masyarakat.
Proyek yang semestinya melambangkan kemajuan justru menghadirkan tanda tanya besar tentang keseriusan dan keberlanjutan pembangunan di daerah tersebut.
Masyarakat pun bertanya: ke mana arah pembangunan ini? Di mana komitmen yang dahulu disampaikan dengan penuh keyakinan?
Mengapa proyek yang menggunakan uang rakyat dibiarkan tanpa kepastian hingga bertahun-tahun?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut wajar muncul, sebab masyarakat berhak mengetahui sekaligus merasakan manfaat dari setiap pembangunan yang dibiayai oleh anggaran publik.
Rakyat tidak boleh hanya hadir sebagai objek politik yang dicari saat pemilu dan dilupakan setelahnya.
Desa-desa di pedalaman tidak seharusnya menjadi tujuan kunjungan sesaat ketika kampanye berlangsung. Masyarakat membutuhkan pemimpin yang hadir tidak hanya ketika membutuhkan suara, tetapi juga ketika rakyat membutuhkan perhatian, solusi, dan tindakan nyata.
Pembangunan yang sesungguhnya tidak diukur dari banyaknya proyek yang diumumkan atau besarnya anggaran yang dialokasikan.
Pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang dapat digunakan, dirasakan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Sebab jembatan yang mangkrak tidak akan memperlancar mobilitas warga.
Beton yang ditumbuhi lumut tidak akan menggerakkan roda perekonomian. Dan proyek yang terbengkalai tidak akan pernah menjadi bukti keberhasilan pembangunan.
Hingga hari ini, masyarakat Silat Hulu masih menunggu. Menunggu janji yang pernah disampaikan berubah menjadi kenyataan.
Menunggu pembangunan yang selama ini hanya terdengar sebagai wacana. Dan menunggu hadirnya pemimpin yang benar-benar bekerja untuk kepentingan rakyat, bukan sekadar datang membawa janji lalu pergi setelah memperoleh jabatan.
Sebab rakyat mungkin diam, tetapi rakyat tidak pernah lupa. Rakyat melihat, mencatat, dan pada waktunya akan menilai siapa yang benar-benar bekerja untuk masyarakat, dan siapa yang hanya menjadikan rakyat sebagai jalan menuju kekuasaan.
Reforter: dedhy













