KOMPAS1.ID
JAKARTA, 9 Juni 2026 — Nilai tukar rupiah yang terus tergerus dan menembus batas psikologis terhadap dolar Amerika Serikat kini bukan lagi sekadar catatan angka di pasar keuangan. Pelemahan tajam ini telah berubah menjadi sumber kekhawatiran nyata masyarakat dan memicu gelombang protes, sebagai cerminan kejenuhan publik di tengah tekanan ekonomi yang kian memberatkan.
Kondisi kritis ini terlihat nyata dalam aksi demonstrasi yang digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Wilayah Jawa Tengah. Di depan gerbang utama kantor Bank Indonesia, massa mahasiswa melakukan serangkaian aksi simbolis yang tegas. Mereka membentangkan spanduk berisi protes keras sekaligus melakukan penyegelan simbolis terhadap kantor otoritas moneter, menyuarakan bahwa jatuhnya nilai rupiah adalah “alarm bahaya” yang mengancam masa depan perekonomian nasional.
Ketegasan pesan ditunjukkan lebih lanjut melalui aksi teatrikal pembakaran uang. Dalam dokumentasi yang ada, terlihat lembaran yang menyerupai uang kertas pecahan Rp50.000 dan Rp100.000 dibakar di tengah kerumunan. Meski diketahui menggunakan tiruan atau uang mainan untuk menghindari pelanggaran hukum atas perusakan mata uang negara, makna yang disampaikan sangat jelas: di mata masyarakat, rupiah kini dianggap telah kehilangan nilai dan daya belinya, seolah tak lebih dari sekadar lembaran kertas tak bernilai.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Secara makroekonomi, kekhawatiran yang disuarakan kaum intelektual muda ini memiliki dasar yang kuat. Ketika rupiah melemah drastis, dampak langsungnya segera terasa di sektor riil. Biaya impor bahan baku industri akan melonjak, yang berujung pada kenaikan harga barang konsumsi dan memicu laju inflasi di pasar dalam negeri. Jika pemerintah dan otoritas moneter tidak segera mengambil langkah penstabilan yang tegas dan strategis, beban terberat dari gejolak ini akan kembali jatuh ke pundak masyarakat kelas menengah ke bawah melalui mahalnya harga kebutuhan pokok.
Redaksi menilai, aksi turun ke jalan ini harus dipahami pengambil kebijakan sebagai sinyal peringatan dini yang serius. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto beserta Bank Indonesia tidak boleh lagi sekadar mengandalkan narasi bahwa “fundamental ekonomi masih kuat” tanpa dibarengi intervensi nyata yang mampu menenangkan psikologis pasar dan rakyat.
Kebijakan moneter konvensional saja tidak cukup; perlu ada kombinasi langkah nyata berupa penguatan insentif ekspor hingga pengetatan aliran modal keluar negeri. Jika momen kritis ini diabaikan, aksi simbolis mahasiswa berpotensi meluas menjadi gejolak sosial yang lebih besar, bahkan hingga mengancam stabilitas politik. Penyelamatan nilai tukar rupiah saat ini bukan lagi sekadar urusan angka statistik, melainkan upaya menjaga kestabilan sosial dan memastikan kebutuhan hidup rakyat banyak tetap terpenuhi.
— Bob Hariawan, Kabiro Kota Bandung














