KOMPAS1.ID
BANDUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi melangkah ke tahap krusial pembangunan proyek strategis Tempat Pengolahan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Regional Legok Nangka. Langkah nyata ditandai dengan penandatanganan kesepakatan kerja sama antara Pemprov Jabar dan PT Jabar Environmental Solutions (PT JES), guna mempercepat realisasi fasilitas pengolahan sampah modern yang juga akan menghasilkan energi listrik.
Penandatanganan perjanjian kerja sama dilakukan secara langsung oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bersama Direktur PT JES, Kenichi Ishikawa. Kesepakatan ini semakin diperkuat dengan adanya dukungan penjaminan dari PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII), yang memberikan kepastian dalam aspek pendanaan dan pelaksanaan proyek.
Dalam perjalanannya, Pemprov Jabar telah melakukan berbagai penyesuaian menyeluruh, mulai dari aspek teknis, finansial, hingga regulasi. Tujuannya agar proyek ini berjalan lebih efisien, transparan, serta dapat beroperasi secara berkelanjutan dalam jangka panjang. Usai tahap kesepakatan ini rampung, fokus utama selanjutnya adalah penyelesaian pembiayaan atau financial close, yang ditargetkan tuntas pada akhir tahun 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tidak sekadar tempat pembuangan sampah biasa, TPPAS Legok Nangka dirancang sebagai fasilitas berteknologi tinggi berkonsep Waste-to-Energy (sampah menjadi energi). Ke depannya, fasilitas ini mampu mengolah ribuan ton sampah setiap harinya, sekaligus mengubah limbah tersebut menjadi sumber energi listrik yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat.
Proyek ini dinilai menjadi tonggak penting transformasi pengelolaan persampahan di Jawa Barat. Keberadaannya diharapkan mampu mengatasi masalah penumpukan sampah, mengurangi tekanan pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang sudah mulai mencapai kapasitas maksimal, sekaligus menyumbang pasokan energi bersih bagi wilayah sekitar.
Keberhasilan proyek Legok Nangka pun menjadi sorotan nasional. Konsep pengolahan sampah menjadi energi ini diyakini bisa menjadi contoh model pengelolaan limbah yang tepat sasaran. Jika diterapkan dengan baik, model serupa sangat potensial untuk dikembangkan di daerah-daerah lain di Indonesia, sebagai solusi ganda atas krisis sampah dan kebutuhan energi listrik yang terus meningkat.***Red














