*Bisa Salah dan Bisa Benar*

Daerah125 Dilihat

Bandung Kompas1.id
*Oleh : Idat Mustari***

Manusia sebagai mahluk yang sempurna dibandingkan dengan mahluk ciptaan Allah lainnya. Namun di balik kesempurnaannya manusia punya potensi untuk berbuah salah, sebab ia pun sebagai mahluk yang lemah (Wa khuliqal insānu dha’īfā) (QS.An-Nisa :28).

banner 336x280

Rasulullah saw bersabda,Kullu banii Aadama khaththaa’un wa khairul khaththaa’iina at-tawwaabuun. (“Setiap anak Adam (manusia) pasti berbuat salah/dosa, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat”).

Jadi ketika manusia berbuat salah adalah manusiawi. Dengan demikian, tidak ada manusia yang sepanjang hidupnya benar. Sepintar apapun seseorang, ada masanya berpikir salah. Sejatinya ini mengantarkan setiap orang untuk bersedia mendengar nasihat orang lain.

Begitupun dalam diri manusia mempunyai potensi kebaikan, karena pada dasarnya secara fitrah manusia adalah baik. Sehingga dalam diri manusia punya potensi berbuat baik dan benar. Seorang yang dianggap sadis, jahat sekalipun, ada potensi ia berkata benar. Itulah kemudian, ketika mendengarkan saran dari orang lain untuk tidak melihat siapa orangnya melainkan liat apa yang dikatannya “Undzur ma qoola wala tandzur man qoola.” (Lihatlah apa yang dikatakan, dan jangan melihat siapa yang mengatakan).

Kita diingatkan oleh kisah Nabi Isa as. Suatu ketika Nabi Isa as lagi jalan bersama para sahabatnya. Di tengah lagi asyik jalan, mereka menemukan seekor bangkai anjing. Kemudian Nabi Isa as bertanya kepada para sahabatnya,”Apa pendapatmu pada seekor bangkai anjing itu?” Mereka menjawab,”Alangkah busuknya bangkai anjing ini”. Mendengar itu, nabi Isa as juga berkomentar, “di bangkai yang busuk itu, masih terdapat gigi yang putih.”

Sahabat-sahabat Nabi Isa as melihat sisi negatif dari bangkai anjing tersebut, yaitu bau busuk yang memang menyengat darinya. Sementara Nabi Isa masih dapat melihat sisi positifnya, yaitu giginya yang putih.

Kisah ini mengajarkan kita, jika saja kita selalu bisa melihat sisi positif dari orang yang jahat sekalipun, maka kita telah memiliki wawasan, hati seperti para Nabi. Wallahu’alam

**_Penulis Buku Bekerja Karena Allah dan Komisaris BUMD di Kab Bandung_

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *