Aceh Singkil kompas1.id –
Suasana tenang di kawasan perkebunan PT Socfindo Lae Butar Aceh Singkil mendadak berubah menjadi lautan protes pada Selasa (14/4/2026).
Ratusan pemuda yang tergabung dalam koalisi masyarakat setempat mengepung kantor perusahaan dengan aksi yang unik namun provokatif, Goyang Pagar.
Aksi ini menjadi simbol kegelisahan warga yang merasa dianaktirikan di tanah kelahiran sendiri.
Massa menilai raksasa perkebunan ini telah bertahun-tahun mengabaikan hak krusial masyarakat sekitar. Dalam orasinya, para pemuda menyoroti kegagalan perusahaan dalam merealisasikan kewajiban kebun plasma sebesar 20%, sebuah amanat Undang-Undang yang hingga kini dianggap masih menjadi mimpi di siang bolong bagi warga Lae Butar.
”Kami bukan penonton di tanah sendiri! Kami meminta PT Socfindo segera membuka lapangan kerja seluas-luasnya bagi pemuda setempat!” teriak salah satu orator di tengah gemuruh massa yang mengguncang pagar kantor perusahaan.
Salah satu poin unik yang mencuat dalam aksi ini adalah kekecewaan mendalam terkait janji Corporate Social Responsibility (CSR).
Masyarakat menagih komitmen pihak Administratur (ADM) yang sebelumnya menjanjikan bantuan ternak kambing untuk pemberdayaan pemuda. Namun, alih-alih melihat ternak di kandang, warga menyebut janji tersebut hanyalah isapan jempol, untuk meredam gejolak sesaat.
Ketua Koordinator Lapangan, Dayat, dalam pernyataan resminya mengeluarkan ancaman serius. Ia meminta operasional pabrik segera dihentikan karena adanya dugaan kuat bahwa PT Socfindo belum mengantongi perpanjangan izin pembaharuan yang sah.
”Kami meminta operasional pabrik dihentikan sebelum izin pembaharuan diselesaikan. Jangan menabrak aturan hukum di daerah kami!” tegas Dayat dengan nada tinggi.
Tak hanya soal izin, Dayat juga membeberkan daftar panjang dosa manajemen perusahaan, antara lain,
Praktik pemberhentian kerja yang dianggap tidak transparan dan semena-mena.
Pemberian sanksi karyawan yang dinilai bertentangan dengan aturan ketenagakerjaan nasional.
Adanya dugaan perlakuan diskriminatif terhadap karyawan berdasarkan agama, yang dinilai mencederai harmoni sosial di Aceh Singkil.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di lapangan masih terjaga namun tetap tegang. Massa mengancam akan bertahan dan meluncurkan aksi gelombang kedua dengan jumlah yang lebih besar jika manajemen PT Socfindo tetap bungkam tanpa memberikan jawaban konkret.
Reporter Sabri
Pagar Socfindo di Goyang, Pemuda Lae Butar Meledak, Tuntut Plasma Hingga Janji Ternak yang Menguap















