BANDUNG Kompas1.id
– Ketegangan di kawasan Selat Hormuz mencapai titik didih. Hari ini, Selasa (7/4), masa berlaku ultimatum 48 jam yang dilayangkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap pemerintah Iran resmi berakhir. Dunia kini menanti dengan cemas: apakah diplomasi akan menang, ataukah eskalasi militer menjadi kenyataan?
Garis Keras dari Mar-a-Lago
Melalui platform Truth Social pada akhir pekan lalu, Trump secara tegas menuntut Teheran untuk segera membuka akses penuh di Selat Hormuz—jalur vital minyak dunia—atau menyepakati perjanjian baru dalam kurun waktu dua hari. Pesan tersebut bukan sekadar gertakan politik biasa; ini adalah sinyalemen “tekanan maksimum” yang kembali diterapkan oleh Washington.
Dampak Global yang Menghantui
Jika kesepakatan tidak tercapai hingga tenggat waktu berakhir, spekulasi mengenai aksi militer mulai bermunculan. Dampak dari kebuntuan ini diprediksi akan langsung memukul ekonomi global, di antaranya:
Lonjakan Harga Minyak: Ketidakpastian di Selat Hormuz berisiko melambungkan harga energi dunia secara instan.
Stabilitas Keamanan Regional: Ancaman konfrontasi fisik dapat menyeret kekuatan besar lainnya ke dalam konflik.
Menanti Respons Teheran
Hingga berita ini diturunkan, pihak Iran belum memberikan pernyataan resmi terkait apakah mereka akan melunak atau tetap pada posisi mereka semula. Para pengamat internasional menilai bahwa situasi ini adalah ujian krusial bagi stabilitas geopolitik di awal tahun 2026.
Akankah serangan udara menjadi opsi terakhir AS, ataukah ada kesepakatan di menit-menit akhir? Fokus dunia kini tertuju sepenuhnya pada pergerakan armada di Teluk Persia.
Bob Hariawan. Kabiro Kota Bandung










