Tarif Mencekik di Pantai Cemara Indah, Wisatawan Kapok, Pemda Aceh Singkil Tutup Mata???

Aceh Singkli242 Dilihat

SINGKILKompas1.id
26 Maret 2026– Citra Pariwisata Aceh Singkil kembali tercoreng oleh praktik dugaan pungutan liar dan penetapan tarif yang dianggap “mencekik” leher pengunjung. Objek Wisata Pantai Cemara Indah (PCI), yang seharusnya menjadi primadona kebanggaan daerah, kini justru menuai kritik pedas dari para pelancong akibat banyaknya pos pembayaran yang dianggap tidak masuk akal.

‎Kekecewaan mendalam dialami oleh rombongan wisatawan asal Sibolga, Tapanuli Tengah, pada Selasa (24/3/2026). An. Marbun, salah satu pengunjung yang membawa dua unit mobil, mengaku terkejut dengan akumulasi biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk menikmati suasana pantai.

‎Berdasarkan penelusuran di lapangan, skema penarikan biaya di PCI tampak berlapis-lapis. Mulai dari pintu gerbang utama, pengunjung sudah dikutip Rp5.000 per kepala. Tak berhenti di situ, biaya parkir kendaraan pun dipatok bervariasi antara Rp20.000 hingga Rp30.000 per mobil, sementara roda dua berkisar antara Rp5.000 hingga Rp10.000.

‎“Kalau tahu biayanya sebesar ini, kami tidak akan mau masuk. Di gerbang sudah bayar per orang, parkir bayar lagi, lalu duduk di pondok pun ditagih harga selangit tanpa ada informasi di awal,” ujar Ibu An. Marbun dengan nada kesal saat ditemui awak media sebelum meninggalkan lokasi.

‎Yang paling disorot adalah sistem sewa pondok atau gazebo. Pengunjung mengeluhkan tidak adanya transparansi harga saat pertama kali duduk. Namun, saat hendak pulang, pengelola menagih biaya sewa mulai dari Rp30.000 hingga Rp50.000 per unit, tergantung keramaian lokasi.

‎“Ini seperti terjebak. Saat duduk tidak dibilang harganya, pas mau berdiri baru ditagih. Belum lagi harga makanan yang melonjak hingga dua kali lipat dari harga normal. Kalau begini caranya, orang yang pas-pasan uangnya bisa malu di sini,” tambahnya.

‎Beliau juga membandingkan pengelolaan wisata di Tapanuli Tengah yang menurutnya lebih ramah kantong dan tertata dalam hal biaya parkir serta akses publik.

‎Kondisi ini memicu dugaan adanya pembiaran dari Pemerintah Daerah (Pemda) Aceh Singkil. Sebagai destinasi yang sudah memiliki nama besar, minimnya standardisasi tarif menunjukkan lemahnya pengawasan dari dinas terkait.

‎Masyarakat dan pengunjung mendesak agar Pemda segera turun tangan menertibkan oknum-oknum yang memanfaatkan momen liburan untuk mengeruk keuntungan pribadi dengan cara yang tidak etis. Jika praktik “pemerasan” berkedok wisata ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin Pantai Cemara Indah akan ditinggalkan pengunjung dan hanya tinggal kenangan.

‎Hingga berita ini diturunkan, pihak pengelola kawasan dan instansi terkait di Pemda Aceh Singkil belum memberikan pernyataan resmi terkait keluhan tarif yang dianggap memberatkan wisatawan tersebut.

‎Repirter Sabri

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *