Berbagai Modus Penipuan oleh Akun yang Tak Bertanggung Jawab

Berita115 Dilihat

KOMPAS1.id || Penipuan melalui pesan atau komunikasi daring semakin marak terjadi di era digital saat ini, dengan pelaku sering menggunakan akun yang tidak dapat dipertanggungjawabkan identitasnya.

Mereka memanfaatkan harapan korban untuk mendapatkan bantuan keuangan atau kesempatan investasi yang menggiurkan, sehingga mudah membujuk korban untuk melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri. Seperti yang terlihat dalam contoh percakapan, pelaku menyamar sebagai pihak yang berwenang dari suatu lembaga keuangan atau koperasi untuk memberikan kesan kredibilitas palsu.

banner 336x280

Salah satu modus umum adalah menawarkan pinjaman dengan nilai besar dengan janji proses yang cepat dan mudah. Pelaku akan menyatakan bahwa dana pinjaman sudah ditransfer ke rekening korban, namun tidak dapat ditarik sebelum korban membayar biaya tertentu. Biaya tersebut sering diberi nama yang meyakinkan seperti “biaya pengaktifan”, “biaya administrasi”, atau “biaya asuransi pinjaman” untuk membuat korban merasa bahwa hal tersebut adalah prosedur standar.

Modus lain yang kerap digunakan adalah memanfaatkan nama lembaga yang sudah dikenal masyarakat, seperti koperasi atau bank ternama, tanpa seizin resmi dari lembaga tersebut. Pelaku akan menunjukkan bukti palsu berupa struk transfer atau dokumen resmi yang dibuat sedemikian rupa agar tampak sah. Hal ini bertujuan untuk memperkuat keyakinan korban bahwa penawaran yang diberikan adalah benar dan dapat dipercaya.

Selain itu, pelaku juga sering menggunakan tekanan psikologis agar korban cepat mengambil keputusan tanpa berpikir matang. Mereka akan menyatakan bahwa kesempatan pinjaman atau investasi hanya tersedia dalam waktu terbatas, atau bahwa dana akan dicabut jika biaya yang diminta tidak segera dibayarkan. Korban yang terburu-buru dan sedang membutuhkan dana cenderung mudah terpengaruh oleh tekanan semacam ini.

Pelaku juga biasanya menyuruh korban untuk mentransfer uang ke rekening pribadi atau akun yang tidak terkait dengan lembaga resmi yang disebutkan. Mereka akan memberikan alasan yang tidak masuk akal seperti “rekening resmi sedang dalam perbaikan” atau “biaya tersebut harus ditransfer ke pihak ketiga untuk proses verifikasi”. Padahal, tidak ada lembaga keuangan yang sah yang akan meminta pembayaran biaya melalui rekening pribadi.

Tanda lain yang menunjukkan adanya penipuan adalah ketika pelaku tidak dapat memberikan informasi yang jelas dan terbuka mengenai lembaga yang diwakilinya. Mereka akan menghindari pertanyaan mengenai alamat kantor, nomor telepon resmi, atau izin operasional yang dimiliki oleh lembaga tersebut. Selain itu, pelaku juga sering menggunakan bahasa yang tidak profesional atau terdapat kesalahan ejaan dan tata bahasa dalam pesan yang dikirimkan.

Perlu menjadi kesadaran bersama bahwa setiap penawaran keuangan yang menguntungkan secara tidak wajar dan meminta pembayaran di muka harus dianggap sebagai potensi penipuan. Korban disarankan untuk selalu memverifikasi keaslian penawaran tersebut langsung ke lembaga yang bersangkutan melalui saluran resmi, tidak mudah terpengaruh oleh janji manis, dan melaporkan setiap dugaan penipuan ke pihak berwenang agar tidak ada korban lain yang merasakan kerugian.(Red)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *