Inovasi Batik Tapis Filosofi Dalam Sentuhan Modern

- Penulis

Sabtu, 2 Mei 2026 - 04:37 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lampung – KOMPAS1.id|| Ditengah derasnya arus modernisasi kain tapis Lampung tetap berdiri sebagai simbol edintitas budaya yang tak lekang oleh waktu lebih dari sekedar busana adat, Tapis adalah cerminan nilai spiritual, status sosial, dan hubungan harmonis masyarakat Lampung dengan Alam.

Kain Tapis Lampung tak hanya indah secara visual, tapi juga memperdayakan perempuan dan ekonomi kreatif daerah: Kain Tenun Tradisional ini mencerminkan status sosial, nilai spiritual, serta hubungan harmonis antara manusia dengan alam sekitarnya.Melalui perpaduan antara tradisi dan kreativitas, Tapis kini berkembang menjadi produk yang tetap relevan dengan gaya hidup masa kini.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Asri Tapis Lampung terus mempertahankan existensi Tapis Lampung sebagai kain tenun tradisional khas Provinsi Lampung yang tidak hanya bernilai seni dan budaya, tetapi juga berdampak nyata terhadap perekonomian masyarakat, khususnya perempuan di pedesaan.

Proses pembuatan Tapis Lampung mengedepankan aspek keberlanjutan dengan menggunakan bahan pewarna alami dari tumbuhan lokal.

Para pengrajin membentangkan kain pada alat yang disebut tekang, lalu menyulamnya secara manual menggunakan Tekhnik cucuk atau tusuk khas dengan benang emas.

Karrna membutuhkan ketelitian tinggi dan waktu pengerjaan yang panjang, nilai jual kain ini meningkat seiring dengan kerumitan motif yang dihasilkan.

Selain proses pembuatannya yang unik, setiap helaian kain tapis menyimpan makna mendalam melalui berbagai motifnya.

Pengerajin mengambil inspirasi dari alam, seperti motif Flora (Bunga dan Pohon). Fauna (Burung dan Gajah), hingga motif kapal yang melambangkan perjalanan hidup manusia.

Seluruh motif tersebut membuktikan filosofi hidup masyarakat Lampung yang sangat menghormati alam sebagai sumber kehidupan utama.

Seni Sulam Yang Sarat Makna.

Keunikan Produk asri Tapis terletak pada proses pembuatannya yang masih mempertahankan Tekhnik manual.

Kain dibentangkan pada alat Tradisional, lalu disulam dengan Tekhnik cucuk atau Tusuk khas menggunakan benang emas.

Baca Juga:  Listrik Tak Stabil, Warga Tiga Kampung di Banjit Geram: PLN Dinilai Lamban dan Abaikan Keluhan

Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi, kesabaran, serta waktu pengerjaan yang tidak singkat.

Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi, kesabaran, serta waktu pengerjaan yang tidak singkat.

Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi dan kesabaran. Waktu pengerjaan bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, tergantung tingkat kerumitan motif. Semakin rumit motif yang dibuat, semakin tinggi pula nilai jualnya.

Beberapa produk juga memadukan batik dengan sulaman tapis, menghadirkan sentuhan modern tanpa meninggalkan akar tradisi.

Perpaduan ini menghasilkan busana yang lebih Fleksibel – dapat dikenakan dalam acara formal maupun semi formal.

Karena dikerjakan secara manual, setiap helai kain memiliki karakter unik dan tidak pernah benar-benar sama. Inilah yang menjadikan setiap produk bernilai eksklusif.

Pemberdayaan Perempuan Dan Ekonomi Daerah.

Harga satu lembar tapis dapat mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kerumitan motif dan kualitas bahan.

Nilai tersebut tidak hanya mencerminkan keindahan Visual, tetapi juga waktu, ketelitian, dan makna yang terkandung didalamnya.

Melalui pengembangan UMKM, partisipasi dalam Pameran, serta inovasi desain, asri tapis Lampung turut berkontribusi dalammenggerakkan ekonomi kreatif daerah.

Diera industri fesyen yang serba cepat, keberadaan Tapis menjadi pengingat bahwa nilai budaya dan keberlanjutan tetap relevan.

Proses pembuatannya yang mengedepankan Tekhnik manual serta penggunaan bahan alami menunjukkan bahwa tradisi dapat berjalan seiring dengan inovasi.

Dengan komitmen menjaga kualitas dan terus beradaptasi terhadap perkembangan jaman, Tapis Lampung tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi simbol masa depan ekonomi kreatif daerah.

Setiap helai kain yang dihasilkan bukan sekedar karya seni, ia adalah cerita tentang edintitas, perjuangan, dan harapan yang terus ditenun dari generasi ke generasi (red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel kompas1.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kompas Satu ID Kalbar Kunjungi Silat Hulu, Soroti Kerusakan Infrastruktur dan Dorong Percepatan Pembangunan Desa
Kunjungan Awak Media Kompas Satu ID Kalimantan Barat ke Kecamatan Silat Hulu, Soroti Infrastruktur dan Percepatan Pembangunan Desa
Becak, Tumpeng, dan Doa Ulang Tahun ke-65 Presiden ke-7 RI
Becak, Tumpeng, dan Doa Ulang Tahun ke-65 Presiden ke-7 RI
Wagub Jihan Temui Massa Aksi Mahasiswa, Pemprov Lampung Kawal Aspirasi ke Pemerintah Pusat
Rumah Sakit Hewan Segera Beroperasi, Perkuat Layanan Kesehatan Hewan dan Dorong Peningkatan PAD
Gubernur Lampung Dorong ASN Optimalkan Lampung In untuk Percepat Layanan Publik Digital
Tak Lagi Sekadar Kritik, DPP JMI Tempuh Jalur Hukum terhadap Sekda OKU”
Berita ini 272 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 29 Juni 2026 - 23:54 WIB

Kunjungan Awak Media Kompas Satu ID Kalimantan Barat ke Kecamatan Silat Hulu, Soroti Infrastruktur dan Percepatan Pembangunan Desa

Senin, 29 Juni 2026 - 15:21 WIB

Becak, Tumpeng, dan Doa Ulang Tahun ke-65 Presiden ke-7 RI

Senin, 29 Juni 2026 - 15:16 WIB

Becak, Tumpeng, dan Doa Ulang Tahun ke-65 Presiden ke-7 RI

Senin, 29 Juni 2026 - 15:14 WIB

Wagub Jihan Temui Massa Aksi Mahasiswa, Pemprov Lampung Kawal Aspirasi ke Pemerintah Pusat

Senin, 29 Juni 2026 - 15:11 WIB

Rumah Sakit Hewan Segera Beroperasi, Perkuat Layanan Kesehatan Hewan dan Dorong Peningkatan PAD

Berita Terbaru

Pemerintah

Menakar Nyawa dan Target di Koperasi Merah Putih

Selasa, 30 Jun 2026 - 02:45 WIB

Uncategorized

“MEMBACA INDONESIA EMAS 2045, MENGAWAL BANTEN MENUJU MASA DEPAN”

Selasa, 30 Jun 2026 - 00:08 WIB