Kompas1.id
Bandung – Gelombang panas ekstrem yang melanda Belanda dalam beberapa pekan terakhir telah memicu lonjakan angka kematian. Institut Nasional untuk Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Belanda (RIVM) melaporkan sebanyak 911 kematian berlebih (excess mortality) terjadi selama periode 22 Juni hingga 5 Juli 2026, dibandingkan dengan perkiraan jumlah kematian normal pada periode yang sama.
Data yang dirilis RIVM pada Rabu tersebut menjadi indikator kuat bahwa suhu udara yang sangat tinggi dapat berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat. Kelompok yang paling rentan meliputi lansia, bayi, penderita penyakit jantung, gangguan pernapasan, diabetes, serta masyarakat dengan kondisi kesehatan kronis lainnya.
Konsep kematian berlebih digunakan untuk menggambarkan selisih antara jumlah kematian yang benar-benar terjadi dengan angka kematian yang diperkirakan secara statistik dalam kondisi normal. Meski tidak seluruh kematian secara langsung disebabkan oleh panas, peningkatan yang signifikan pada periode gelombang panas menunjukkan adanya hubungan yang erat antara suhu ekstrem dan meningkatnya risiko kematian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Para pakar kesehatan menjelaskan bahwa paparan suhu tinggi dalam waktu lama dapat memicu dehidrasi berat, heatstroke, gangguan fungsi organ, hingga memperparah penyakit yang telah diderita sebelumnya. Risiko semakin meningkat apabila suhu tetap tinggi pada malam hari sehingga tubuh tidak memiliki waktu yang cukup untuk menurunkan suhu secara alami.
Fenomena ini juga memperkuat kekhawatiran dunia terhadap dampak perubahan iklim yang membuat gelombang panas semakin sering terjadi, berlangsung lebih lama, dan memiliki intensitas yang lebih tinggi dibandingkan beberapa dekade sebelumnya.
Menjadi Peringatan Penting bagi Indonesia
Meskipun Indonesia beriklim tropis dan tidak mengalami musim panas seperti negara-negara Eropa, para ahli menilai kejadian di Belanda harus menjadi pelajaran penting dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem.
Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia juga mengalami peningkatan suhu udara di sejumlah wilayah, terutama saat musim kemarau dan fenomena iklim seperti El Niño. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan yang memiliki daya tahan tubuh lebih rendah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara berkala mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai suhu panas, menjaga kecukupan cairan tubuh, menghindari aktivitas berat di bawah terik matahari pada siang hari, serta memperhatikan kondisi kesehatan anggota keluarga yang rentan.
Selain ancaman terhadap kesehatan, suhu ekstrem juga dapat berdampak pada sektor pertanian, ketersediaan air bersih, peningkatan konsumsi listrik akibat penggunaan pendingin ruangan, hingga meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau.
Perlu Adaptasi dan Mitigasi
Pengalaman Belanda menunjukkan bahwa negara dengan sistem kesehatan yang maju sekalipun tetap menghadapi tantangan besar ketika gelombang panas terjadi. Oleh karena itu, pemerintah di berbagai negara, termasuk Indonesia, didorong untuk terus memperkuat sistem peringatan dini, meningkatkan edukasi masyarakat mengenai bahaya cuaca ekstrem, serta menyiapkan layanan kesehatan yang mampu merespons lonjakan kasus akibat suhu tinggi.
Pakar iklim menilai adaptasi terhadap perubahan iklim kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Penguatan ruang terbuka hijau, pengelolaan lingkungan perkotaan yang lebih baik, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak cuaca ekstrem di masa mendatang.
Kasus 911 kematian berlebih di Belanda menjadi pengingat bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman jangka panjang, melainkan realitas yang telah berdampak pada keselamatan manusia. Indonesia, meski berada di kawasan tropis, perlu mengambil pelajaran dari peristiwa tersebut agar lebih siap menghadapi tantangan iklim yang diperkirakan akan semakin sering terjadi pada masa depan.Jurnalis Joepin














