Mobil listrik (EV) tengah menjadi primadona baru di jalanan Indonesia

Otomatif15 Dilihat

Kompas1id

Mengapa Harga Bekas Mobil Listrik Anjlok Drastis? Ini 3 Faktor Utamanya
Mobil listrik (EV) tengah menjadi primadona baru di jalanan Indonesia. Namun, ada satu fenomena yang cukup mengejutkan bagi para pemilik maupun calon pembeli: harga jual kembalinya yang turun signifikan.
​Sebagai contoh, BYD Seal tipe Premium yang harga barunya di kisaran Rp629 juta untuk tahun 2024, harga bekasnya bisa langsung menyentuh angka Rp300–400 jutaan. Penurunan ini jauh lebih tajam dibandingkan mobil bermesin konvensional (ICE).

banner 336x280

​Lantas, apa yang membuat harga mobil listrik bekas begitu “anjlok”? Berikut adalah tiga alasan utamanya:
​1. Depresiasi Baterai: Komponen Termahal
​Baterai adalah “jantung” sekaligus komponen paling mahal dalam sebuah mobil listrik. Biaya penggantiannya pun tidak main-main, bisa mencapai setengah dari harga mobil itu sendiri.
​Seiring pemakaian, kapasitas baterai pasti akan menurun (sama halnya dengan Battery Health pada ponsel). Calon pembeli mobil bekas cenderung khawatir akan sisa umur baterai dan biaya besar yang menanti di depan mata. Meski beberapa pabrikan menawarkan garansi seumur hidup (lifetime warranty), kebijakan ini biasanya hanya berlaku untuk pemilik pertama. Hal inilah yang membuat nilai jual kembali EV langsung merosot di tangan pemilik kedua.

​2. Laju Perkembangan Teknologi yang Masif
​Teknologi mobil listrik berkembang sangat cepat. Hampir setiap tahun, produsen merilis model baru dengan teknologi yang jauh lebih canggih, seperti:
​Jarak tempuh yang lebih jauh.
​Durasi pengisian daya yang lebih cepat.
​Fitur software yang lebih pintar.
​Hal ini membuat model keluaran dua atau tiga tahun lalu terlihat cepat usang. Ibarat membeli barang elektronik atau gadget, mobil listrik lebih dipandang sebagai produk teknologi daripada aset otomotif tradisional, sehingga nilai depresiasinya pun mengikuti pola barang elektronik.

​3. Daya Beli dan Infrastruktur yang Masih Terbatas
​Masyarakat Indonesia masih menganggap mobil listrik sebagai barang mewah jika dibandingkan dengan mobil kategori LCGC atau mobil konvensional lainnya. Rendahnya daya beli untuk unit bekas ini diperparah dengan kekhawatiran terhadap infrastruktur pengisian daya.
​Bagi banyak orang, melakukan perjalanan jauh dengan mobil listrik masih dianggap berisiko karena jumlah SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) yang belum merata. Berbeda dengan Tiongkok yang sudah memberikan subsidi masif sejak 2010, adopsi EV di Indonesia masih dalam tahap awal, sehingga pasar mobil bekasnya belum terbentuk dengan stabil.
​Kesimpulan: > Membeli mobil listrik saat ini sebaiknya diniatkan untuk penggunaan jangka panjang agar nilai manfaatnya sebanding dengan biaya yang dikeluarkan. Jika Anda berencana mengganti mobil dalam 2-3 tahun, siap-siaplah menghadapi penurunan harga yang cukup menantang. Bob Hariawan. Kabiro Kota Bandung

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *