Ketungau Hulu, Kompas1.id
Kabupaten Sintang – Proyek pembangunan asrama dan sejumlah fasilitas pendidikan di SMKN 1 Ketungau Hulu kembali menjadi sorotan masyarakat. Pasalnya, pembangunan yang disebut-sebut menelan anggaran sekitar Rp4 miliar tersebut diduga mengalami keterhentian atau mangkrak, sehingga menimbulkan berbagai pertanyaan dari warga mengenai kelanjutan proyek tersebut. Jum’at (13/03/2026)
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, kondisi bangunan yang terlihat pada foto menunjukkan bahwa pembangunan belum selesai dan terkesan terbengkalai. Pada bagian dalam bangunan, terlihat lantai yang belum sepenuhnya terpasang keramik. Sebagian lantai masih berupa tanah bercampur puing-puing material bangunan seperti pecahan batu bata, plastik bekas, serta sisa material konstruksi yang berserakan. Hal ini mengindikasikan bahwa pekerjaan interior belum diselesaikan dan sudah cukup lama tidak dilanjutkan.
“Sementara itu, pada bagian luar bangunan, terlihat dinding yang masih menggunakan susunan batako tanpa finishing yang sempurna. Bahkan pada beberapa bagian tembok tampak lubang-lubang besar dan kerusakan pada dinding, yang menunjukkan kondisi bangunan yang belum selesai atau kemungkinan mengalami kerusakan akibat terbengkalainya proyek dalam waktu cukup lama..
Selain itu, pagar sementara yang terbuat dari kayu di sekitar bangunan juga terlihat sudah tidak terawat. Area sekitar bangunan tampak ditumbuhi rumput liar dan tidak menunjukkan adanya aktivitas pembangunan. Situasi tersebut memperkuat dugaan bahwa aktivitas pekerja sudah lama tidak terlihat di lokasi proyek.
Seorang tokoh masyarakat setempat yang enggan disebutkan namanya menyampaikan kepada awak media bahwa masyarakat merasa kecewa dan mempertanyakan kelanjutan proyek tersebut. Menurutnya, sejak awal warga sangat mendukung pembangunan fasilitas pendidikan tersebut karena dianggap dapat membantu meningkatkan kualitas pendidikan bagi generasi muda di wilayah Ketungau Hulu.
“Kami sangat berharap pembangunan ini bisa segera dilanjutkan. Asrama ini sangat dibutuhkan oleh siswa yang berasal dari desa-desa jauh. Kalau proyek ini dibiarkan mangkrak seperti ini tentu sangat disayangkan, apalagi anggarannya mencapai miliaran rupiah,” ujarnya.
^Warga juga menilai bahwa keberadaan asrama sekolah sangat penting, mengingat banyak siswa yang berasal dari desa-desa terpencil di wilayah Ketungau Hulu yang harus menempuh perjalanan jauh untuk bersekolah di SMKN 1 Ketungau Hulu.
Jika pembangunan tidak segera dilanjutkan, masyarakat khawatir bangunan yang sudah setengah jadi tersebut akan mengalami kerusakan lebih parah akibat faktor cuaca dan waktu. Hal ini tentu dapat menimbulkan kerugian negara karena anggaran yang telah dikeluarkan tidak memberikan manfaat maksimal bagi dunia pendidikan di daerah tersebut.
Oleh karena itu, masyarakat berharap pemerintah daerah di Kabupaten Sintang serta instansi terkait dapat segera turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan langsung terhadap proyek tersebut. Warga juga meminta adanya transparansi dari pihak kontraktor maupun pihak pelaksana proyek mengenai kendala yang terjadi, sehingga tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Apabila nantinya ditemukan adanya kelalaian dalam pelaksanaan proyek atau dugaan penyimpangan anggaran, masyarakat berharap aparat penegak hukum dapat menindaklanjuti sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
“Hingga berita ini diterbitkan, pihak kontraktor maupun instansi terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai alasan terhentinya pembangunan asrama dan gedung sekolah tersebut.
Masyarakat kini hanya berharap agar proyek pembangunan fasilitas pendidikan ini dapat segera dilanjutkan dan diselesaikan, sehingga dapat dimanfaatkan oleh para siswa demi kemajuan pendidikan di wilayah Ketungau Hulu dan sekitarnya.
Jurnalis Effendy










