Kompas1.id || Wilayah Bandung Raya, mencakup Kabupaten dan Kota Bandung, berada dalam bayang-bayang potensi gempa bumi besar yang bersumber dari aktivitas Sesar Lembang. Menyikapi risiko tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat meningkatkan langkah mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
Sesar Lembang merupakan struktur geologi aktif yang membentang sekitar 29 kilometer dari Padalarang hingga Cimenyan, tepat di sisi utara Kota Bandung dan berada di kawasan kaki Gunung Tangkuban Perahu. Keberadaannya bukan sekadar catatan ilmiah, melainkan sumber potensi gempa yang nyata dan perlu diantisipasi secara serius.
Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suryatman, menyampaikan bahwa Pemprov Jabar telah menjalin koordinasi intensif dengan sejumlah lembaga terkait, seperti BRIN, BMKG, dan BNPB, guna mempersiapkan langkah-langkah pencegahan apabila terjadi gempa. Menurutnya, Jawa Barat merupakan salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi, sehingga kewaspadaan menjadi hal mutlak.
“Gempa bumi adalah ancaman yang terus kami pantau. Sesar Lembang menjadi salah satu fokus utama dalam upaya mitigasi dan pengawasan,” ujar Herman, dikutip dari unggahan media sosialnya, Sabtu (31/1/2026).
Ia menambahkan, pembangunan di wilayah rawan gempa memerlukan perencanaan dan biaya lebih besar karena harus memenuhi standar ketahanan bangunan. Struktur konstruksi wajib dirancang dengan pondasi kuat dan mengikuti Standar Nasional Indonesia (SNI) agar mampu meminimalkan dampak kerusakan.
“Dengan bangunan tahan gempa, aktivitas masyarakat dapat tetap berjalan, sekaligus menjaga agar infrastruktur vital seperti listrik dan jaringan utilitas tidak terganggu saat bencana terjadi,” jelasnya.
Di sisi lain, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas Sesar Lembang. BMKG juga secara berkelanjutan berkoordinasi dengan BPBD dan pemerintah daerah untuk memperkuat sistem peringatan dini serta meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi potensi gempa.(*Red/)










