Silat Hulu, Kompas1.id
Kabupaten Kapuas Hulu
Musim durian selalu menjadi momen istimewa bagi masyarakat Kalimantan Barat. Tidak sekadar menandai melimpahnya hasil kebun, musim ini juga menjadi waktu penting untuk melestarikan tradisi pengolahan durian yang telah diwariskan secara turun-temurun. Salah satu tradisi tersebut masih terjaga dengan baik di Desa Landau Badai, Kecamatan Silat Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Rabu (7/1/2026).
Di desa ini, durian tidak hanya dinikmati secara langsung atau dijual per biji. Warga memanfaatkannya dengan mengolah daging buah durian menjadi makanan khas bernilai tinggi, seperti lempok dan tempoyak. Aktivitas pengolahan ini dilakukan secara sederhana di rumah, namun sarat akan nilai kebersamaan dan kearifan lokal.
Sejak pagi hari, suasana rumah salah satu warga Desa Landau Badai tampak lebih ramai dari biasanya. Tumpukan durian matang hasil kebun dibelah satu per satu. Daging buahnya dipisahkan dari biji, kemudian dikumpulkan untuk diolah. Proses ini melibatkan seluruh anggota keluarga, mulai dari orang tua hingga anak-anak, masing-masing mengambil peran sesuai kemampuan.
Pembuatan lempok durian menjadi tahapan paling menyita waktu dan tenaga. Daging durian dimasukkan ke dalam kuali besar, lalu dimasak di atas api sedang. Selama proses memasak, adonan harus terus diaduk tanpa henti selama berjam-jam agar tidak gosong dan menghasilkan tekstur lempok yang kental, legit, serta memiliki cita rasa khas.
Karena membutuhkan tenaga ekstra, kegiatan mengaduk lempok dilakukan secara bergantian. Satu orang mengaduk, sementara yang lain beristirahat, lalu bergantian kembali. Meski melelahkan, suasana tetap terasa hangat dan penuh canda.
“Kalau tidak sabar dan tidak kuat mengaduk, lempoknya bisa gagal. Tapi kalau sudah jadi, rasanya khas sekali dan bisa tahan lama,” ujar salah satu warga Desa Landau Badai saat ditemui di sela kegiatan.
Selain lempok, sebagian durian juga diolah menjadi tempoyak, yaitu durian yang difermentasi secara alami. Tempoyak merupakan bahan makanan khas yang sangat populer di Kalimantan Barat dan sering digunakan sebagai bumbu masakan tradisional, seperti ikan tempoyak atau sambal tempoyak. Proses fermentasi dilakukan dengan cara sederhana, menggunakan teknik tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Tradisi mengolah durian ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan. Lempok durian dikenal sebagai salah satu oleh-oleh khas daerah yang banyak diminati, terutama saat musim durian tiba. Harga jualnya pun relatif stabil dan menguntungkan dibandingkan menjual durian segar semata.
Dengan mengolah durian menjadi produk olahan, masyarakat Desa Landau Badai mampu meningkatkan nilai tambah hasil kebun mereka. Cara ini juga menjadi solusi saat durian melimpah di pasaran, sehingga harga tidak jatuh terlalu rendah.
Lebih dari sekadar aktivitas ekonomi, tradisi ini mencerminkan kuatnya nilai gotong royong, kebersamaan, dan kekeluargaan di tengah masyarakat desa. Dapur rumah berubah menjadi ruang berkumpul, tempat bekerja bersama, berbagi cerita, dan mempererat hubungan antaranggota keluarga.
Tradisi pengolahan durian menjadi lempok dan tempoyak ini menjadi bukti bahwa kekayaan budaya lokal di Kabupaten Kapuas Hulu masih hidup dan terus dijaga. Di tengah perkembangan zaman dan perubahan gaya hidup, masyarakat Desa Landau Badai tetap setia mempertahankan warisan leluhur mereka.
Bagi warga setempat, musim durian bukan hanya tentang panen dan keuntungan, tetapi juga tentang melestarikan budaya, menjaga kebersamaan, dan memperkuat identitas lokal yang menjadi kebanggaan masyarakat pedesaan di Kalimantan Barat.
Pewarta Effendy










