Kepekaan Rasa*

Bandung12 Dilihat

Kompas1.id
*Oleh : Idat Mustari***
Sejatinya setiap orang yang mengikuti pendidikan di madrasah Ramadhan, perasaannya harus peka, hatinya harus mudah tersentuh ketika melihat kezaliman, ketidakadilan. Meskipun mungkin saja raganya tak tampil, mulutnya tak berteriak “lawan kezaliman,”  tapi ia menyimpan ketidak setujuannya atas peristiwa kezaliman.

Seseorang yang hanya baru bisa menyimpan kesedihannya atas ketidakadilan yang menimpa saudara-saudaranya sesama  muslim. Tentu saja ini lebih baik dari orang yang tak sedikitpun tersentuh hatinya, terdayuh rasanya dan tak ada sedikitpun rasa iba atas penderitaan yang dialami oleh saudaranya sesama muslim

banner 336x280

Orang yang benar puasanya tidak sekedar menahan makan dan minum, kuat lapar dan haus tapi sadar bahwa hidup ini sangat lah singkat, sulit diprediksi, tak tahu kapan harus berakhir dan meninggalkan dunia yang fana ini. Kesadaran ini memacu dirinya untuk mengukir langkahnya, hidupnya dengan baik.

Pemimpin daerah yang peka rasanya pasti sayang pada rakyatnya. Jika jadi dokter, ia dapat melihat gejala pasen dengan baik dan sentuhan ruhaniah, tidak semata mencari keuntungan secara materi. Jika jadi pengacara, ia tidak sekedar mencari pasal memenangkan perkara dan  membuat klien yang telah berbuat zalim jadi angkuh dengan kedzalimannya tapi ia tampil sebagai pembela, penegak keadilan. Jika jadi teman, ia akan jadi teman yang baik, yang tak curang apalagi menusuk dari belakang.

Orang yang benar-benar menghayati dan mampu mengambil pelajaran dari puasa di bulan Ramadhan,sadar bahwa dalam hidup tak boleh egois asal senang sendiri,  tak peduli orang lain.Sungguh pelatihan di madrasah Ramadhan sejatinya membuat rasa semakin peka meraba rasa. Wallahu’alam

**Penulis Buku Bekerja Karena Allah dan Komisaris BUMD kab Bandung

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *